|
|

LINK
- Ministry of Culture and Tourism, Republic of Indonesia
- Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
- Balai Pelestarian Sejarah & Nilai Tradisional Pontianak
- BPSNT Padang
- darmabakti : dari Majapahit Bangsa kita Bangkit Kembali
|
|
Total Pengunjung Sejak
1 Desember 2008
|
|
|
|
PUBLIKASI HASIL PENELITIAN
PENELITIAN TAHUN 2012
TENUN IKAT ADONARA
Oleh : I Made Satyananda
Nusa Tenggara Timur terkenal memiliki kekayaan tenun ikat dengan beraneka ragam motif dan ragam hias. Demikian juga dengan Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur memiliki tenunan khas yang lebih dikenal dengan Nowing dan Kwatek. Nowing merupakan sarung khusus untuk kaum laki-laki, sedangkan kwatek adalah kain sarung tenun untuk kaum perempuan. Kedua jenis tenunan ini memiliki berbagai motif khas yang membedakannya dengan jenis tenun ikat yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur. Berbagai motif tenun ikat Adonara antara lain kebukak, lako dowa, ile hurun, kolon matan dan kau nepi. Kwatek dan nowing sampai saat ini masih tetap berkembang, hanya saja bahan yang dipergunakan untuk pembuatan tenun ikat di daerah Adonara sudah beralih ke benang pabrik. Menenun bagi perempuan Adonara mereka wariskan secara turun temurun.
Kata kunci : tenun ikat, ragam hias, motif
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI DESA PEGAYAMAN
KECAMATAN SUKASADAKABUPATEN BULELENG
Oleh : Nuryahman
Desa Pegayaman, salah satu desa yang mayoritas warganya beragama Islam berada di Bali Utara. Masyarakat muslim Pegayaman merupakan kelompok masyarakat tersendiri dan menjalin hubungan baik dengan desa-desa lain sekitarnya yang beragama lain. Selain Desa Pegayaman banyak juga desa-desa di Bali yang warganya mayoritas beragama Islam, tentu saja dengan latar belakang sejarah dan perkembangan budaya yang berbeda. Sebuah desa yang mempunyai keunikan dan merupakan desa Islam yang spesifik. Para peneliti banyak menaruh perhatian pada desa ini. Akulturasi maupun interaksi di Pegayaman dalam bidang bahasa dan budaya sangat unik, dialek atau aksen Pegayaman. Awal mula pegayaman tidak terlepas dari masuknya agama Islam di Buleleng. Pada tahun 1587 M masa pemerintahan I Gusti Ngurah Panji (putera Dalem Sagening), menang perang melawan Blambangan. Datang utusan Raja Mataram (Surakarta) membawa hadiah seekor gajah. Utusan tersebut telah memeluk agama Islam dan diperintahkan untuk menetap yang sekarang menjadi Banjar Jawa, kemudian diperintahkan membuka hutan gatep (gayam) yang menjadi sebuah desa Pegayaman. Paduan nama Muslim dan Hindu Bali seolah sulit dipisahkan, yang membedakan nama belakangnya yang mencerminkan nama Muslim seperti, Wayan Hasan, Made Imam, Nengah Syaiful Zakaria, Ni Nyoman Siti, Ni Made Fatima. Sistem pendidikan dikembangkan secara Islam. Sejak TK/RA hingga MA (Madrasah Aliyah) atau setingkat SLTA. Selain SD Negeri yang dibangun oleh pemerintah yaitu tiga buah SD, ada juga MI (Madrasah Ibtidaiyah) Miftahul Ulun, kemudian MTs (Madrsah Tsanawiyah) dan SMP Maulana Pegayaman, dan sebuah MA (Madrasah Aliyah) setingkat SMA. Juga dikembangkan TPQ (Taman Pendidikan Al Quran) di mushola-mushola. Untuk mempersatukan warga muslim di Pegayaman hanya ada sebuah masjid, namun masyarakat boleh membangun beberapa mushola. Selain sekolah formal di atas, terdapat kajian agama Islam lewat pengajian-pengajian, Majelis Talim dan Pondok Pesantren.
Kata Kunci : Desa Pegayaman, Perkembangan, Pendidikan Islam
KOMUNITAS BUDA DI LOMBOK UTARA
Oleh : I Wayan Rupa
Agama Buda di Lombok ditulis ( tanpa huruf h) untuk kepercayaan ini,
dan Bhuda (pakai "h") untuk ajaran sang Bhuda Gautama. Agama Buda atau lebih tepat untuk disebut sebagai kepercayaan Buda, Agama Buda merupakan kepercayaan asli Lombok sebelum adanya agama lain masuk ke Lombok. Buda menurut orang Sasak juga disebut dengan Bude artinya orang yang sudah Islam tetapi belum melaksanakan syariat Islamnya. Buda ini juga mengaku memang dari dulu betul-betul sebagai seorang Buda dari ajaran Siwa-Buda yang dibawa oleh orang-orang Majapahit atau Hinayana sejak sebelumnya itu sebetulnya. Penelitian dibantu dengan konsep dan teori ekologi budaya dan relegi dibantu pula dengan studi kepusatakaan dan metode wawancara. Selama ini yang terjadi di lokasi penelitian bahwa ada beberapa penganut Buda yang sudah pada ajaran Bhuda dewasa ini, namun masih banyak yang masih taat dengan tradisi Buda yang diwarisi oleh nenek moyangnya.
Kata Kunci : Buda dan Adaptasi.
PETANI GARAM TRADISIONAL DESA KUSAMBA
KABUPATEN KLUNGKUNG DI UJUNG ZAMAN
SEBUAH KAJIAN SEJARAH
Oleh : I Putu Kamasan Sanjaya
Garam merupakan senyawa ion positif basa dengan ion negatif asam yaitu senyawa kristalin Natrium Clorida (NaCl) yang mengandung ammonium klorida dan sodium nitrat yang memiliki rasa asin. Garam banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia baik untuk memasak, mencegah gondok serta untuk pengawetan ikan kering. Besarnya manfaat garam dalam kehidupan manusia sehingga garam banyak diusahakan manusia terutama oleh petani garam baik secara moderen maupun secara tradisional. Salah satu sentra pertanian garam tradisional yang sangat terkenal di Bali adalah sentra garam tradisional yang berada di Desa Kusamba Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung. Petani garam tradisional di Desa Kusamba sangat terkenal dengan hasil garam supernya yang memiliki rasa yang khas, renyah dan berwarna putih bersih hingga memiliki kwalitas terbaik di Bali. Namun dinamika sosial ekonomi membuat kehidupan para petani tradisional terpuruk hingga berada di ujung zaman. Berbagai upaya sosial ekonomi diusahakan secara terpadu baik oleh Pemerintah Daerah, pihak swasta, para petani garam serta pihak terkait bersatu menjadi sebuah agen-agen struktur sosial yang terkoordinasi antara ruang-waktu terhadap aktivitas sosial memberi ciri-ciri kontekstual daerah yang menjadi wahana para petani garam tradisional untuk menjalani jalur kehidupan sehari-hari yang merentang lintas ruang waktu hingga muncul kreativitas reproduksi praktek kelembagaan menjadikannya sebuah aset budaya yang mampu menjadi sebuah Objek Daya Tarik Wisata yang memberi potensi baru dalam kehidupan para petani garam di Desa Kusamba. Praktek-praktek sosial yang dipahami sebagai prosedur-prosedur, metode-metode atau teknik yang dilatih dilakukan oleh agen sosial yang memadukan konsep sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya teknologi sekalipun tradisional menghasilkan sebuah produk yang mampu melintas ruang waktu. Terciptalah peluang-peluang baru berupa ekspor garam tradisional hingga keluar negeri baik itu ke Amerika, Jepang, Italia dan Belanda. Hingga para petani garam di Desa Kusamba mampu lepas dari himpitan yang sebelumnya berada di ujung zaman menjadikannya sebuah potensi baru bagi kehidupan sosial ekonominya.
Kata Kunci : Petani Garam Tradisional, Di ujung zaman, Kajian Sejarah
PEMAHAMAN BUDAYA GENERASI MUDA TENTANG PERILAKU IDEAL PADA MASYARAKAT SUMBA DI WAIKABUBAK
Oleh : I Gusti Ayu Armini
Kebudayaan memberi pemahaman tentang norma-norma ideal yang menjadi acuan kehidupan masyarakat. Pemahaman budaya memberi peluang realisasi nilai-nilai dan norm-norma ideal yang menjadi acuan berperilaku. Sejalan perkembangan zaman, norma-norma ideal itu pun mengalami perubahan, khususnya perubahan pemahaman budaya di kalangan genersi muda. Kajian terhadap budaya ideal sebagai acuan perilaku, bersandar pada pendapat Talcot Parsons bahwa tindakan memiliki empat fungsi penting yakni ; 1) kemampuan adaptasi, 2) pencapaian tujuan, 3) kemampuan mengatur hubungan, 4) memelihara pola-pola budaya. Di Waikabubak, kehidupan masyarakat masih terikat erat dengan adat-istiadat. Pemahaman budaya lokal sebagai acuan perilaku masih stabil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, akibat pekembangan teknologi, beberapa pemahaman budaya ideal mengalami perubahan meliputi perubahan pola pikir, perubahan perilaku berpakaian, dan pemakaian barang-barang elektronik.
Kata kunci : pemahaman budaya, perilaku ideal, perubahan perilaku.
SENI TARI API KONTEMPORER SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA DI BALI
Oleh
I Gusti Ayu Agung Sumarheni
Seni tari kontemporer, baik yang bersumber dari tradisi maupun nontradisi merupakan hasil kreatifitas anak bangsa. Pada zaman modern ini seni tari kontemporer sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan oleh masyarakat. Kesenian tersebut telah mendapat perhatian khusus, terbukti dengan adanya seni tari api kontemporer. Awalnya kesenian tersebut berasal dari kebudayaan sebuah suku pedalaman yang berada di Negara New Zealand yang bernuansa mistis dan ditarikan hanya pada saat suku itu melakukan ritual penyembahan roh leluhur. Namun seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu, kesenian api tersebut mulai dilirik serta dikembangkan oleh seniman-seniman kreatif dari negara lain dan mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. Hingga pada akhirnya mulai disebarkan dan dipelajari oleh para seniman muda diberbagai daerah pariwisata di Bali. Penelitian ini bersifat ilmiah, landasan teori yang dipergunakan untuk menganalisis permasalahan adalah teori modernisasi dan teori kebudayaan. Untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan, digunakan metode kualitatif.
Kata Kunci : Seni, Tari api, Kontemporer
Sistem Kepercayaan Masyarakat Desa Penglipuran, Bangli
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti
Desa Pengelipuran merupakan salah satu desa kuno, yang hingga kini masih memegang ketat adat dan tradisi. Berbagai bentuk aktivitas ritual maupun dalam kaedah-kaedah dalam kehidupan social kemasyarakatan masih berjalan dan eksis walaupun pengaruh globalisasi terus mengancam dan mempengaruhinya. Menyadari akan keadaan tersebut, masyarakat telah menyadari bahwa perlu adanya strategi untuk mempertahankan tradisi adat dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pewarisan tersebut, tidak hanya dalam bentuk fisik namun juga dalam wujudnya yang sangat abstrak seperti system kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Penglipuran. Tulisan ini lebih memfokuskan pada permasalahan yakni system kepercayaan masyarakat penglipuran. Teori yang diperguanakn adalah teori neofungsional dan teori semiotic. Hasil dari penelitian ini bawasannya system kepercayaan pada masyarakat penglipuran masih berpegang pada adat dan tradsi yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhurnya. Tampak adat yang berupa ritual-ritual maupun konsep kosmologi local masih digunakan sebagai pedoman dalam bertindak atau berprilaku oleh masyarakat Penglipuran.
Kata kunci: system kepercayaan, desa adat, dan Penglipuran.
KUBUR BATU DI SUMBA BARAT
NUSA TENGGARA TIMUR
(Makna dan Filosofi Sejarah)
Oleh : Ida Bagus Sugianto
Cokorda Istri Suryawati
Batu Kubur Bagi masyarakat Sumba adalah sarana penghubung dan wujud serta simbol keharmonisan hubungan manusia yang hidup di alam nyata dengan roh leluhur. Sebagai simbol hubungan yang harmonis antara manusia Sumba dengan roh leluhurnya, batu kubur ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Sumba. Masyarakat sumba mempunyai kepercayaan bahwa leluhur mereka yang telah meninggal akan tetap mengawasi kehidupan mereka dan senantiasa menuntun jalan kehidupan yang dilalui oleh manusia yang masih hidup di alam nyata. Keberadaan batu kubur ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Sumba, dan untuk lebih memahami tentang makna dan filosofis dari keberadaan batu kubur ini, dilakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan sejarah serta untuk dapat mengungkap fungsi dan makna filosofisnya digunakan pendekatan antropologi dengann menggunakan teori fungsional dan teori semiotik yang berusaha memberikan pemahaman terhadap simbol dan makna.
Kata Kunci: Batu Kubur, Simbol dan Makna.
TATA RUANG PURI KABA-KABA
Oleh : I Made Dharma Suteja
Yufiza
Puri di Bali merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Bali yang menempatkan atau menggambarkan manusia Bali sangat lekat berinteraksi dengan Tuhan, Sesama Manusia, dan alam/lingkungan. Puri sendiri merupakan rumah/tempat tinggal kaum bangsawan terutama yang memiliki hubungan darah dengan raja-raja di Bali. Puri sebagai sebuah karya arsitektur merupakan wujud kebudayan fisik yang lahir melalui ide dan sistem budaya serta sistem sosial masyarakat Bali di masanya. Melalui arsitektur puri dapat dilihat gambaran budaya masyarakat Bali pada masa tertentu. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat Bali yang berlangsung pada rentang waktu tertentu akan tercermin pada perubahan elemen-elemen arsitektur puri. Salah satu puri yang mencerminkan hal tersebut adalah Puri Kaba-Kaba. Dengan pendekatan antropologi dalam tulisan ini akan diusahakan untuk memberikan gambaran tentang bentuk Puri Gede Kaba-Kaba, fungsi tata ruang Puri Gede Kaba-Kaba, dan makna terkandung dalam tata ruang di Puri Gede Kaba-Kaba.
Kata Kunci: tata ruang, fungsi tata ruang, budaya
KEHIDUPAN NELAYAN TRADISIONAL DI KAMPUNG WURING KELURAHAN WOLOMARANG SIKA
NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : I Made Sumarja
Kampung Wuring Kelurahan Wolomarang Kabupaten Sika merupakan suatu desa nelayan di Sika serta sekaligus sebagai desa nelayan tradisional yang memegang peranan penting dalam kemajuan ekonomi di Sika. Keberadaan kampung nelayan ini tidak diketahui secara pasti angka tahunnya, dan berdasarkan oral tradition yang hidup dalam masyarakat disebut bahwa keberadaannya terkait dengan sistem perdagangan nusantara yang dilakukan oleh para pedagang Bugis dari Makassar Sulawesi Selatan pada pertengahan abad ke-18. Entahlah sejak kapan Suku Bajo ini mendiami kawasan ini. Beberapa orang bercerita bahwa asal-usul suku Bajo dari Sulawesi yang semuanya adalah pelaut-pelaut ulung yang sulit jika hidup atau tinggal di gunung. Mereka bisa dikatakan telah menjadikan laut sebagai nyawa mereka. Mereka seolah menyatu dengan laut.
Kata Kunci: Nelayan Tradisional, Kampung Wuring
TATA KRAMA MASYARAKAT LARANTUKA
KABUPATEN FLORES TIMUR NTT
Oleh : I Wayan Sudarma
Kita ketahui bersama bahwa nilai-nilai merupakan inti dari setiap kebudayaan. Khusus dalam hal ini adalah nilai-nilai moral yang merupakan sarana pengatur dari kehidupan bersama, sangat menentukan dalam setiap kebudayaan. Terlebih lagi di tengah kemerosotan moral bangsa kita, sehingga dibutuhkan bangkitnya kembali upaya pelestarian dan pendidikan karakter yang menekankan pada dimensi etis religius. Sejalan dengan hal tersebut, Larantuka sebagai ibu kota Flores Timur yang kini juga telah berhadapan dengan zaman modern yang serba terbuka, dapat mempertahankan nilai-nilai moral adat-istiadat dengan dimulai dari tingkat keluarga untuk menghindari kekosongan moral, kemudian di tingkat pergaulan muda-mudi untuk menghindari hilangnya pegangan dan keteladan dalam meniru kelakuan-kelakuan etis, dan terakhir pergaulan di tingkat masyarakat adat demi lestari dan bangkitnya kembali nilai-nilai etik yang kini terkesan mulai diterlantarkan.
Kata Kunci : Kearifan Lokal, Nilai Moral, Generasi muda dan Masyarakat.
STRATIFIKASI MASYARAKAT DONGGO
Oleh : Dwi Bambang Santosa
Makalah ini adalah laporan penelitian tentang Stratifikasi Sosial Pada Masyarakat Donggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dimana data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara serta studi pustaka. Analisa data dilakukan menggunakan trianggulasi data, hasil analisa dituangkan dalam bentuk teks narasi. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur stratifikasi social yang terbentuk pada masyarakat Donggo sebagai upaya menambah informasi mengenai kekayaan suku bangsa yang ada di Indonesia. Dari penelitian ini diketahui bahwa stratifikasi social pada masyrakat Donggo berdasarkan keturunan, hal ini terjadi untuk menciptakan atau mempertahankan keteraturan masyarakat.
Kata Kunci : struktur social, masyarakat
TATAKRAMA MASYARAKAT DI DESA AIR KUNING, KABUPATEN JEMBRANA, BALI
Oleh : I Ketut Sudharma Putra
Tatakrama masyarakat di Desa Air Kuning, Kecamatan Negara, Kabupaten Negara, Propinsi Bali, sangat penting untuk diteliti dan dikaji. Penelitian tatakrama masyarakat di Desa Air Kuning menggunakan teori strukturasi dari Anthony Giddens untuk memecahkan permasalahan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatakrama masyarakat di Desa Air Kuning, memiliki wujud, fungsi, dan makna bagi kehidupan warga masyarakatnya. Wujud tatakrama, diantaranya: tatakrama terhadap orang tua (orang yang dituakan), tata krama makan dan minum, tatakrama berpakaian, dan yang lainnya. Fungsi tata krama adalah dapat digunakan sebagai dasar atau pedoman dalam mengatur dan menata kehidupan masyarakat. Sedangkan makna tatakrama adalah dapat memberikan arahan dan tuntunan kepada warga masyarakat, dalam bersikap dan berperilaku. Di samping itu, makna tatakrama dapat meningkatkan keyakinan dan rasa percaya diri bagi warga masyarakatnya dalam bersikap dan berperlaku. Pelaksanaan tatakrama oleh warga masyarakat di Desa Air Kuning dilakukan baik di dalam lingkungan kerabat, maupun di luar lingkungan kerabat.
Kata Kunci : Tatakrama, Masyarakat Desa Air Kuning.
TRADISI PERANG PAPAH
PADA UPACARA PAGINGSIRAN BATARA PINGIT DI DESA PAKRAMAN PENGOTAN, KABUPATEN BANGLI, BALI
Oleh : I Made Purna
Kabupaten Bangli merupakan salah satu dari delapan kabupaten yang ada di Bali telah banyak memiliki keunikan budaya yang diwadahi oleh Desa Asli Tradisional atau yang sering juga disebut dengan Desa Bali Aga maupun Desa Pegunungan seperti Desa Pekraman Pengotan. Keunikan yang dimaksud salah satu diantaranya adalah Perang Papah. Perang Papah merupakan permainan trradisional yang sering juga disebut dengan Tari Persembahan yaitu para pemainnya saling memukul satu sama lain dengan menggunakan batang dari daun pisang. Tradisi ini diadakan di Pura Bale Agung Pengotan. Jadwal penyelenggaraan Tradisi Perang Papah ini pada Purnama Sasih Kaenam sesuai dengan penanggalan Bali atau sekitar bulan Desember tahun Masehi.
Oleh karena Perang Papah diwadahi upacara tradisional keagamaan maka, pesan yang dikandung oleh tradisi tersebut diantaranya mengenai kehidupan keagamaan dan spiritual, kemudian hubungan antar manusia dengan manusia yang diwujudkan dalam kebersamaan. Juga tradisi ini akan membentuk jiwa kesatria kemudian penghormatan terhadap leluhur dan para dewa yang beristana di Bukit Airawang (Gunung Abang) yang disimbolkan melalui Pura Tuluk Biyu, Pengendalian Sosial dan Resolusi Konflik.
Kata Kunci : Perang Papah, Resolusi Konflik, Upacara Tradisional
RAJA BADUNG COKORDA ALIT NGURAH PADA MASA PEMBUANGAN
DI LOMBOK
Oleh : Cokorda Istri Suryawati
Lombok yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan banyak potensi wisata menakjubkan. Di samping itu obyek wisata di NTB juga menyimpan sisi historis yang begitu menarik, unik dan memikat. Satu diantara obyek wisata dengan daya tarik sisi sejarah yang cukup unik adalah Taman Mayura di Cakranegara. Taman Mayura ini ternyata menyimpan banyak nilai seni, budaya dari sejarah Kerajaan Hindu di Pulau Lombok beberapa abad yang silam.
Sebagai tempat yang bernilai historis Taman Mayura yang berlokasi di Pulau Lombok pada tahun 1907 pasca peristiwa puputan badung yang terjadi tahun 1906 di Bali dipilih sebagai tempat pengasingan Raja Badung yang kalah perang pada waktu itu. Raja Cokorda Alit Ngurah (Putra Mahkota) Kerajaan Badung berhasil diselamatkan, tetapi beliau akhirnya diasingkan ke Lombok oleh pemerintah kolonial Belanda selama kurang lebih 10 tahun.
Kata Kunci : Raja Badung, Masa Pembuangan di Lombok, Taman Mayura
DAMPAK MODERNISASI TERHADAP
KESENIAN TRADISIONAL DI UBUD, BALI
Oleh : A.A. Gde Rai gria
Wilayah Ubud berlokasi di daerah Bali bagian tengah memiliki kelebihan tersendiri dari wilayah-wilayah yang lainnya yang ada di daerah Bali. Wilayah ubud ini terdapat beberapa desa kerajinan dan kesenian lainnya dengan seniman-seniman tabuh dan tarinya begitu juga dengan kesenian lukisnya yang bermotif tradisional dan modern. Dengan demikian wilayah Ubud sendiri sangat terkenal sebagai pusat perkembangan seni lukis dan kesenian lainnya di Bali. Berkembangnya kepariwisataan di daerah Ubud sudah tentunya akan mempengaruhi keberadaan kesenian tradisional di daerah tersebut. Modernisasi telah mengakibatkan terjadinya perubahan yang membawa dampak positif dan negatif dalam kehidupan masyarakat Ubud khususnya dalam bidang kesenian diantaranya seni lukis, seni tari, seni tabuh, seni patung dan berbagai jenis kesenian lainnya .Aktivitas seni yang dilakukan oleh masyarakat daerah Ubud merupakan kesenian tradisional yang mencerminkan kepribadian masyarakat yang bernafaskan Agama Hindu
Kata Kunci : Dampak, Modernisasi, Kesenian Tradisional, Ubud.
ESKSISTENSI ARJA GODOGAN DI DAKDAKAN KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN TABANAN
Oleh : I PUTU PUTRA KUSUMA YUDHA, S.Sos
Arja godogan merupakan sebuah kesenian arja yang berasal dari dakdakan kecamatan Kediri kabupaten tabanan. Arja ini menceritakan cerita I godogan yang bersumber dari cerita panji dalam pencariannya mencari seorang istri. Dramatari arja godogan sangat popular pada era 70-an, memiliki fungsi dan makna yang sangat penting bagi masyarakat penikmat hiburan pada masa itu. Akan tetapi, seiring perubahan zaman eksistensi arja godogan seakan menuju ke tepian senja.
Kata kunci: Arja Godogan, fungsi dan makna, eksistensi
KAJIAN NILAI AJARAN ORGANISASI SURYA CHANDRA BHUANA
DI PROVINSI BALI
Oleh :
I Wayan Suca Sumadi
Masalah yang paling mendasar dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai bentuk ajaran dari organisasi Surya Chandra Bhuana serta nilai-nilai apa yang terkandung dalam setiap ajaran tersebut?, dengan menggunakan landasan teori yaitu teori budaya organisasi dan teori nilai. Untuk memperoleh data yang relevan dan akurat terkait dengan permasalahan tersebut, digunakan metode kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi, serta data skunder diperoleh melalui perpustakaan. Analisis data bersifat kualitatif yang dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil analisis data disajikan dengan deskripsi.Sebagai sebuah penelitian yang bersifat Ilmiah Populer, maka penelitian ini bertujuan tidak semata-mata mengetahui, mengidentifikasikan, serta mendeskripsikan fokus bahasan, akan tetapi juga akan dapat memberikan gambaran atau informasi yang utuh kepada masyarakat pada umumnya tentang keberadaan organisasi Surya Chandra Bhuana di Provinsi Bali, sehingga dapat menangkis opini-opini miring tentang munculnya sebuah organisasi Penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Hasil penelitian menujukkan : Pertama, Organisasi Surya Chandra Bhuana sebagai salah satu organisasi Penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berpusat di Denpasar, Bali didirikan oleh I.B.Alit Kusuma Negara pada tanggal 20 Mei 1994. Organisasi Surya Chandra Bhuana menitik beratkan pada sisi kebhatinan yaitu suatu organisasi yang lebih mengutamakan urusan bathin dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Inti ajaran penghayat kepercayaan Surya Chandra Bhuana adalah : (1) Ajaran tentang Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Ajaran Tentang Manusia; (3) Ajaran Tentang Alam Semesta; (4) Ajaran Tentang Kesempurnaan Hidu;. Kedua, nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran organisasi Surya Chandra Bhuana adalah nilai religius yaitu Ketuhanan dan nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dgn sesama, dan hubungan manusia dengan alam. Penjabaran nilai-nilai ini sesuai dengan inti ajaran semua penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yaitu Sangkan paraning dumadi (mempelajari ilmu tentang darimana asal kehidupan manusia, dan kelak kalau meninggal dunia mau kemana); Manunggaling kawula lan Gusti (mempelajari tentang hubungan manusia dengan Tuhan " dengan sembah rasa "); dan Memayu hayuning bawana (mencari bekal hidup keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan alam akhir).
Kata kunci : Surya Chandra Bhuana, Sangkan Paraning dumadi, Manunggaling kawula lan gusti, Memayu hayuning bawana
JEJAK - JEJAK PORTUGIS DI LARANTUKA
NUSA TENGGARA TIMUR
(Suatu Penelusuran Sejarah)
Oleh : Ida Bagus Sugianto
Penguasaan Malaka oleh Bangsa Portugis pada tahun 1511 membuka pintu gerbang penyebaran pengaruh Portugis di Nusantara. Bangsa Portugis awalnya melakukan perluasan dalam usaha untuk penyebaran agama dan mencari rempah-rempah untuk menguasai perdagangan dan perekonomian dunia. Dalam perjalanannya menelusuri lautan dan menyinggahi bandar-bandar perdagangan bangsa Portugis senantiasa menyebarkan pengaruhnya terhadap budaya-budaya masyarakat lokal. Di nusantara peninggalan Bangsa Portugis sangat terlihat di Indonesia Bagian Timur, peninggalan-peninggalan ini baik berupa peninggalan fisik (Benteng Pertahanan), bahasa, dan tradisi (yang berbau keagamaan). Tulisan ini dengan menggunakan pendekatan sejarah berusaha untuk menelusuri keberadaan dari peninggalan-peninggalan bangsa Portugis baik yang berupa peninggalan fisik, bahasa, maupun tradisi keagamaan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat di Larantuka (Flores Timur). Peninggalan pengaruh Portugis ini banyak yang menjadi bagian atau unsur-unsur kebudayaan dari masyarakat Larantuka di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Kata Kunci: Pengaruh Portugis, Unsur Budaya Portugis, Peninggalan Portugis
PERMUKIMAN DI PERKAMPUNGAN TRADISIONAL WOGO, DESA RATOGESA, KECAMATAN GOLEWA,
KABUPATEN NGADA, NTT
Oleh : Kadek Dwikayana
Perkampungan Tradisional Wogo di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada provinsi NTT masih memiliki permukiman yang unik dan masih lestari sampai saat ini. Pola Permukiman maysarakat Wogo adalah mengelompok dimana deretan rumah-rumah masyarakat dan pohon-pohon yang mengelilingi lapangan tengah. Pada bagian lapangan terbuka di permukiman tersebut terdapat Ngadhu dan Bagha. Rumah adat pada permukiman kampong tradisional wogo ini terdiri dari 3 bagian yaitu One, Tedha One dan Tedha Wawo. Permukiman rumah adat di kampung Wogo merupakan salah satu wujud nyata dari bentuk ekspresi masyarakatnya yang sarat dengan nilai-nilai budaya seperti nilai nilai etika, nilai Solidaritas, nilai Religius, dan nilai estetika.
Kata kunci: Permukiman, Rumah Tradisonal, Bendtuk dan Nilai
Potensi Pengembangan Wisata Alam dan Budaya di Larantuka Flores Timur
Oleh : I Made Sumerta
Larantuka merupakan wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Flores Timur yang merukan kota dari Kabupaten Flores Timur. Kecamatan Larantuka merupakan Kecamatan yang terdapat di pinggir pantai dengan pemandangan alam yang cukup indah. Di sampaing alam pantai yang indah Larantuka juga merupakan wilayah yang terdapat di kaki sebuan gunung yang disebut dengan Gunung Ile Mandiri. Lingkungan alam yang terdapat di Kabupaten Flores Timur dengan kotanya Larantuka memiliki daya tarik yang luar biasa, terutama pada saat Perayaan Pekan Suci Samana Santa yang dilaksanakan setiap tahunnya dengan suasana yang sangat ramai dengan kedatangan para peziarah yang datang dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia maupun dari manca negara. Dengan adanya kegiatan budaya tersebut menyebabkan Larantuka terkenal di seluruh dunia.
Kata Kunci : Wisata Alam dan Budaya di Larantuka.
BUDAYA SUKU BANGSA LAMAHOLOT
DI LARANTUKA, FLORES TIMUR
NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : Ni Luh Ariani
Suku bangsa Lamaholot merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Flores secara umum dan salah satu wilayah yang didiami secara dominan adalah Larantuka. Suku Bangsa Lamaholot ini memiliki ciri budaya tersendiri yang membedakannya dengan suku bangsa-suku bangsa lain di daerah lainnya di Indonesia. Unsur budaya suku bangsa Lamaholot ini sendiri terbentuk dari beragam unsur budaya yang ada di Indonesia, diantaranya unsur budaya Melayu, budaya Bajo, budaya Jawa, budaya Portugis, dan lain sebagainya. Unsur-unsur budaya ini membaur dalam kesatuan dan membentuk budaya Lamaholot yang sangat kuat berakar dalam masyarakat Lamaholot di Larantuka. Dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan antropologi dan menggunakan metode penelitian kualitatif akan diusahakan untuk mengungkap wujud budaya Suku Lamaholot di Larantuka Flores Timur, dan untuk mengetahui kebertahanan unsur-unsur kebudayaan Suku Lamaholot di era globalisasi.
Kata Kunci: Suku Bangsa Lamaholot, Unsur-unsur Kebudayaan.
Pemberdayaan Potensi Budaya Di Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan Bima
Dalam Pengembangan Industri Pariwisata
Oleh : Yufiza
Semua pihak terkait dalam industri pariwisata perlu memiliki gambaran yang utuh dan terpadu dalam mengelola potensi sumber daya yang dimiliki pada masing-masing kabupaten di Pulau Sumbawa serta diperlukan arah dan strategi yang jelas untuk mengembangkan potensi-potensi baik budaya maupun alam yang terkait dengan kepariwisataan. Diharapkan setiap kabupaten telah memiliki pola pengembangan dan pengelolaan pariwisata yang jelas dan terproduktif dalam jangka waktu tertentu sehingga mampu mengembangkan berbagai obyek dan daya tarik wisatanya sesuai dengan situasi dan kondisi pada masing-masing daerahnya.
PERILAKU SADAR LINGKUNGAN KOMUNITAS PEMULUNG DI KECAMATAN MENGWI, KABUPATEN BADUNG
Oleh : I Ketut Sudharma Putra
I Wayan Sudarma
Penelitian mengenai Perilaku Sadar Lingkungan Komunitas Pemulung Di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, menarik untuk diteliti, karena sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan teori asimilasi, diskriminasi struktural, dan teori kasta untuk memecahkan permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulung di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dipandang dari segi ekonomi dan sosial, sebagian besar tergolong masyarakat miskin. Oleh karena itu membutuhkan perhatian semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Dalam melaksanakan aktivitas kerjanya, pemulung melakukan berbagai tindakan, diantaranya: (1). Mengumpulkan barang bekas. dan (2). Melakukan pemilahan/penyortiran barang bekas. Keberadaan pemulung di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, memiliki arti/makna bagi kehidupan masyarakat, baik dipandang dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya.
Kata Kunci : Pemulung di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
PURANA PURA LUHUR PUCAK BUKIT GEDE BANJAR POYAN DESA LUWUS KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN, BALI
Oleh : I Wayan Rupa, I Putu Kamasan Sanjaya
Purana memiliki peran yang sangat penting khususnya di Bali karena di dalamnya memuat beberapa hal-hal yang sangat penting seperti awal mula terjadinya alam semesta, genealogis para Dewa, genealogis para raja dan keturunan keluarga, fungsi dan status pura serta tradisi-tradisi yang ada. Kesemua hal-hal tersebut sangat berguna sebagai pedoman bagi generasi selanjutnya dalam melaksanakan bishama para leluhur agar tetap dapat dipertahankan. Oleh sebab itu banyak keinginan masyarakat di Bali agar memiliki purana di pura yang mereka empon. Salah satunya adalah Pura Luhur Pucak Bukit Gede yang terletak di Banjar Poyan Desa Luwus, Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan yang berstatus sebagai Pura Kahyangan Jagat (Pura Penyungsungan Umum). Pura ini secara geografis berfungsi sebagai pusat religius dalam konsep catursala yang dikelilingi oleh beberapa pura sebagai sala (mahkota) seperti Pucak Bukit Buwung, Pucak Melangki, Pucak Sari dan Pucak Hyang Api yang mengelilinginya seperti sebuah bunga teratai yang suci. Pura Luhur Pucak Bukit Gede merupakan pura peninggalan abad ke-11 sampai 12 berdasarkan tinggalan arkeologinya dan merupakan sebuah tempat sebagai stananya Dewa Siwa Gana yang memiliki fungsi sebagai tempat memohon kekuatan (taksu) bagi masyarakat Bali, seperti seniman, dukun maupun Barong, Rarung, Rangde, serta Tapakan agar memancarkan kekuatan.
Kata Kunci : Purana, Pura, Luhur.
PENELITIAN TAHUN 2011
TENUN IKAT HELONG NUSA TENGGARA TIMUR
(SUATU TINJAUAN DARI PERSPEKTIF BUDAYA)
Oleh : I Wayan Suca Sumadi
Tenun Ikat Helong adalah merupakan suatu bentuk/hasil kerajinan tradisional yang berupa kain Tenun Ikat yang dimiliki oleh suatu masyarakat suku Helong yang ada di Desa Bolok, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan terfokus pada Tenun Ikat, karena masyarakat Suku Helong terutama yang ada di Desa Bolok, Nusa Tenggara Timur memiliki cirri khas/identitas tersendiri dalam hal tenun ikat, yang dapat membedakan mereka dengan suku-suku yang lainnya di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini berupaya mengungkap kekhasan daripada tenun ikat Helong sehingga hasil kerajinan tenun ikat tersebut berbeda dengan tenun ikat-tenun ikat lainnya yang ada di Nusa Tenggara Timur, dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi didalam pengumpulan data lapangan serta menggunakan analisis deskriptif naratif dalam menganalisis data yang ada. Penelitian ini menemukan, bahwa tenun ikat Helong dalam hal bahan baku masih menggunakan bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitar, serta dikerjakan oleh tangan-tangan terampil masyarakat suku Helong secara tradisional. Perbedaan mendasar tenun ikat Helong dengan tenun ikat lainnya adalah terletak pada motif/ragam hiasnya, di samping bahan baku yang dipakai serta proses pengerjaannya. Sedangkan mengenai bentuk dan fungsi dari Tenun Ikat Helong relatif sama dengan bentuk dan fungsi yang dimiliki tenun ikat lainnya yang ada di Nusa Tenggara Timur.
Kata Kunci : Tenun Ikat, Helong
PENGARUH BUDAYA BALI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SASAK DI MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT
(Perspektif Sejarah)
Oleh :Ida Bagus Sugianto
Perluasan kekuasaan oleh Kerajaan Karangasem, Bali ke Pulau Lombok merupakan bagian dari usaha Kerajaan Karangasem untuk memperkokoh kedudukannya dalam konstalasi politik kerajaan-kerajaan di Bali. Kerajaan Karangasem memperluas kekuasaannya ke pulau Lombok dan tidak berusaha untuk menguasai Nusa Penida yang lebih dekat. Selain karena faktor politik, Kerajaan Karangasem juga melihat Lombok sebagai suatu daerah yang subur yang berpotensi meningkatkan perekonomian kerajaan. Penguasaan Kerajaan Karangasem terhadap pulau Lombok juga membawa serta budaya-budaya Bali ke sana. Di Lombok Kebudayaan Bali Berbaur dengan kebudayaan masyarakat di sana yang dikenal dengan Masyarakat Sasak. Oleh karena itu banyak terdapat unsur-unsur budaya Bali dalam kehidupan dan budaya masyarakat Sasak. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dalam usaha untuk mengetahui latar belakang terdapatnya unsur-unsur budaya Bali di kehidupat masyarakat Sasak di Lombok (Kota Mataram khususnya).
Kata Kunci: Budaya Unsur Budaya Bali, Budaya Sasak.
NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT
DI SIKKA, NTT.
Oleh : A.A Gde Rai Gria
Cerita rakyat merupakan salah satu budaya lokal yang didalamnya berisi seperangkat nilai yang menjadi pedoman prilaku manusia dalam mewujudkan cara-cara hidup. Sebagai warisan budaya maka masyarakat mempelajarinya dan mematuhi norma-norma serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada. `Masyarakat Sikka mempunyai bermacam-macam cerita rakyat sama seperti daerah-daerah lainnya yang ada di `Indonesia. `Cerita `Rakyat tersebut merupakan cerita tradisional yang diwariskan oleh leluhurnya dan dilanjutkan keberadaannya sampai sekarang. `Cerita `Rakyat `Sikka itu judul-judulnya antara lain `: `Dongeng `Me`LElang `Bala, `Du,a `Ubeng `Leeng dan `Moang `Alang `Tarang, Sejarah nama `Hewokloang `Lepo `Dan `Mahe, `Mitos `Boby dan `Nomby atau `Mitos asal usul padi di wilayah Sikka.`Cerita-`Cerita `Rakyat ini mengandung nilai-nilai budaya yang sangat luhur. `Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat Sikka adalah nilai `: `Nilai `Estetika, `Nilai `Etika, `Nilai `piritual, `Nilai `Kebersamaan dan `Nilai `Penghormatan. semua `Cerita `Rakyat `Sikka ini sampai sekarang masih bertahan dalam masyarakat karena adanya dukungan sosial maupun budaya.
Kata Kunci : Cerita Rakyat, Masyarakat Sikka.
PERANAN PURI KARANGASEM
PADA MASA KOLONIAL BELANDA
Oleh : Cokorda Istri Suryawati
Pada umumnya puri-puri di Bali termasuk Puri Karangasem dibangun dengan menggunakan pola Sanga Mandala. Dan pola ini menjadi ciri khas keberadaan puri dijaman kerajaan di Bali. Puri sebagai sebuah karya arsitektur dengan pola Sanga Mandala yang terdiri atas sembilan pelebahan yang menjadi dasar pembangunan puri yaitu : 1) Ancak Saji; 2) Sumanggen; 3) Rangki; 4) Pewaregan; 5) Lumbung; 6) Saren Kaja; 7) Saren Kangin; 8) Pasebanan; 9) Pamerajan. Pengertian Palebahan dalam hal ini adalah bidang halaman yang dibatasi oleh pagar keliling dan didalam halaman tersebut terdapat beberapa bangunan dengan tujuan tertentu. Dengan adanya campur tangan kolonial Belanda kemudian, maka penggunaan pola Sanga Mandala pada Puri karangasem/Puri Amlapura lebih disederhanakan menjadi tiga bagian yakni Bencingah, Jaba Tengah dan Maskerdam. Bencingah merupakan bagian dari puri, dimana kesenian tradisional sering dipentaskan. Jaba Tengah menjadi kebun puri. Bagian ketiga adalah Maskerdam yang diberikan setelah nama kota Amsterdam, sebuah kota di Belanda. Bangunan ini dibangun pada awal Raja Karangasem memulai hubungan dengan pemerintah Belanda. Dan bangunan Maskerdam sering digunakan oleh Raja Karangasem untuk menerima tamu-tamu pentingnya.
Kata Kunci: Puri Karangasem, Kolonial Belanda.
HUBUNGAN ANTAR ETNIK PADA MASYARAKAT
PERUMAHAN MONANG MANING DI DENPASAR
Oleh : Dwi Bambang Santosa
Makalah ini adalah laporan penelitian tentang Hubungan Antar Etnik Pada Masyarakat Perumahan Monang Maning Di Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dimana data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara serta studi pustaka. Analisa data dilakukan menggunakan trianggulasi data, hasil analisa dituangkan dalam bentuk teks narasi. Dari penelitian ini diketahui tentang faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan antar etnik, yaitu faktor tradisi, faktor kekerabatan antarsuku bangsa, faktor misi dakwah, faktor kerjasama antartokoh agama, pemimpin adat dan aparat pemerintah serta tidak adanya provokasi yang menimbulkan perpecahan, baik oleh masyarakat, tokoh dan pemimpin maupun pihak ketiga. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa peranan lembaga sosial yang ada di perumahan Monang Maning sangat menopang dalam memupuk toleransi antar warga sehingga terwujud hubungan antar etnik yang harmonis.
Kata Kunci : hubungan antar etnik, lembaga sosial
TOLERANSI MASYARAKAT PETANI BEDA AGAMA
PADA ORGANISASI SUBAK DI DESA LINGSAR NTB
Oleh : I Wayan Sudarma
Subak merupakan sebuah organisasi pertanian yang keberadaannya bukan di daerah Bali saja, namun juga di wilayah Lombok Barat, salah satunya di desa Lingsar. Anggotanya tidak homogen lagi (satu suku dan agama), melainkan sudah heterogen. Artinya; masyarakat sebagai anggota subak terdiri atas dua atau lebih etnik berbeda suku dan agama yang sering diasumsikan mudah menimbulkan konflik. Pada organisasi subak di desa Lingsar, hal itu belum pernah terjadi, karena mereka menjalankan kegiatan dalam berbagai bentuk seperti upacara kelompok ngampar, lowong, ngerompak, dan sebagainya dilaksanakan atas dasar toleransi tinggi, sedangkan upacara yang sifatnya individu mereka memiliki perinsip saling tidak mengganggu.
Kata Kunci : organisasi subak, etnik berbeda suku dan agama, toleransi.
KEPERCAYAAN KOMUNITAS ADAT DI DESA WATUHADANG, KECAMATAN UMALULU, KABUPATEN SUMBA TIMUR
Oleh : I Made Suarsana
Penelitian terhadap kepercayaan komunitas adat di Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini bersifat deskriftip kualitatif. Penelitian ini dapat mengungkap kepercayaan asli masyarakat atau komunitas adat Watuhadang yang berbentuk animisme dan dinamisme dalam kepercayaan Marapu. Kepercayaan tersebut berfungsi menata kehidupan serta hubungan antara masyarakat Watuhadang dengan Tuhannya, dengan sesama manusia serta dengan lingkungan alamnya. Kepercayaan itu pula mengandung makna bahwa hidup dan kehidupan ini telah diatur oleh Sang Khaliq, Sang Maha Kuasa, karena itu manusia wajib taat, sujud dan bhakti kepada Sang Pencipta, kepada leluhur, serta memiliki kasih sayang terhadap semua makhluk yang ada di dunia ini.
Kata Kunci : Kepercayaan, Komunitas Adat, Marapu.
PEMBERDAYAAN INDUSTRI KREATIF:
BATIK SASAMBO, SONGKET, GERABAH, DAN CUKLI
DI NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Made Purna
Selain faktor pertanian, perekonomian masyarakat Nusa Tenggara Barat juga digerakkan oleh sektor perdagangan terutama melalui sektor kerajinan. Jenis kerajinan yang potensial ialah jenis kerajinan tradisional yang berbasiskan warisan budaya bangsa dan mewakili identitas budaya suku-bangsa yaitu : Batik Sasambo, Gerabah, Songket, dan Cukli. Karena itu tidak mengherankan keempat jenis kerajinan ini telah mendapat respon pemberdayaan baik pemberdayaan dari pemerintah maupun masyarakat pendukung. Pola pemberdayaan yang sudah dilaksanakan antara lain: program penciptaan 100.000 wirausaha; program jejaring kemitraan dalam pelatihan; program jejaring kemitraan dalam perusahaan hasil kerajinan; program peningkatan kreatif inovatif; program pengenalan melalui pameran; melalui kegiatan lomba-lomba; pengembangan motif; dan program menambah sekolah kejuruan.
Kata Kunci: Pemberdayaan dan Kerajinan serta Kreatif.
SEJARAH PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN DI PULAU ROTE - NDAO NUSA TENGGARA TIMUR
(Sebuah Pulau Terdepan Indonesia Bagian Selatan)
Oleh : Nuryahman
Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur merupakan pulau terdepan nusantara di bagian selatan menjadi bagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.Dalam hal perkembangan pemerintahan atau kekuasaan di Pulau Rote dengan dimulai adanya pemerintahan tradisional yang disebut Nusak. Kedatangan bangsa Portugis tidak sempat menanamkan kekuasaan dan membentuk pemerintahan di Pulau Rote, namun nama Rote justru yang memberi adalah orang Portugis. Ketika Belanda berkuasa di Hindia Belanda, Rote menjadi bagian dari wilayah Karesidenan Timor dan daerah taklukannya yaitu pulau-pulau di Nusa Tenggara.Di masa pemerintahan Republik Indonesia sesudah merdeka, Pulau Rote menjadi bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur. Di era reformasi Pulau Rote sejak tahun 2002 menjadi daerah otonom yaitu Kabupaten Rote Ndao dengan pusat pemerintahannya di Kota Baa dan terdiri dari 8 kecamatan, dan tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai pulau terdepan bagian selatan.
Kata Kunci : Pulau Terdepan, Perkembangan, Kekuasaan, Pemerintahan
UPACARA USABHA MANGGUNG DI DESA SIBETAN KECAMATAN BEBANDEM KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI
Oleh : I Gusti Ayu Agung Sumarheni
Kebudayaan daerah memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan masyarakat pendukungnya yakni sebagai suatu kebanggaan dan identitas suatu daerah. Dengan demikian dipandang perlu untuk melestarikan upacara-upacara keagamaan yang didalamnya mengandung banyak nilai-nilai budaya luhur yang penting digunakan sebagai cerminan masyarakat di Bali dan di Indonesia. Berbagai upacara keagamaan Bali di tiap-tiap daerah memiliki banyak simbol-simbol tertentu sebagai media atau perantara serta sistem cara beragama masyarakat Bali yang religius untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan upacara keagamaan tersebut memiliki arti dan tujuan serta manfaat dan makna kehidupan yang terkandung didalamnya. Seperti halnya Upacara Usabha Manggung di Desa Sibetan Karangasem, yakni upacara pemujaan terhadap Dewi Sri yang dilaksanakan satu tahun tahun sekali secara turun temurun oleh warga Desa adat Sibetan. Di dalam pelaksanaannya juga mempunyai dampak positif, artinya upacara tersebut masih dilestarikan dan mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat setempat. Mereka sangat percaya tujuan mereka tetap menjaga kelestarian upacara ini, agar tradisi warisan para leluhur tidak punah sampai kapanpun.
Kata Kunci : Kebudayaan, Pelaksanaan Upacara Keagamaan, Usabha Manggung.
PLURALISME PADA MASYARAKAT SEKOTONG, LOMBOK BARAT
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti
Lombok adalah salah satu kepulauan di gugusan sunda kecil. Melihat Lombok sekarang lebih dicitrakan sebagai pulau seribu masjid. Namun dalam realitasnya Lombok dihuni oleh berbagai etnik yang memiliki system ideology atau kepercayaanya masing-masing. Itulah realitias atau ciri dari penduduk yang pluralis. Salah satu kabupaten yakni, Lombok barat khususnya kecamatan Sekotong telah mengalami perubahan dalam karakteristik kependudukan. Di kecamatan Sekotong telah bergeser menjadi daerah yang multi etnik. Keadaan ini tidak lepas dari perpindahan penduduk dan sejarah pada masa lalu di Lombok. Pergerakan penduduk pada saman kekuasaan kerajaan karangasem sangat membawa dampak terhadap keadaan di wilayah Lombok. Banyak etnik Bali yang tinggal dan menetap berbaur dengan masyarakat Lombok khususnya di Kecamatan Sekotong. Tidak hanya itu penduduk pendatang yang berasal dari Sumbawa seperti etnik Samawa, Mbojo dan selanjutnya dalam rentang waktu diikuti oleh penduduk lainnya seperti etnik Jawa, Bugis, dll. Percampuran atau perbauran kebudayaan inilah membawa kecamatan Sekotong menjadi sangat pluralis dan multi etnik.
Kata Kunci: Pluralisme, etnik, Sekotong.
TRADISI USABA GULING SIYU PADA PELAKSANAAN USABA SUMBU DI DESA PAKRAMAN TIMRAH,KECAMATAN DAN KABUPATEN KARANGASEM,PROVINSI BALI
Oleh : I Wayan Rupa
Penelitian terhadap tradisi Usaba Guling sebagai salah satu upaya memahami, melestarikan, mendokumentasikan, karena selama ini belum begitu banyak para peneliti melakukan kajian terhadap keberadaan tradisi ini. Penelitian ini dilaksanakan dengan memanfaatkan teori struktural fungsional dan ekologi budaya dan dibantu dengan metode wawancara dan kepustakaan. Tradisi pelaksanaan Usaba Guling pada Usaba Sumbu yang berlangsung di Pura Panti Kaja (atau Bangun Sumbu Kaja dan Pura Panti Kelod atau Bangun Sumbu Kelod ) pada sasih Kasa (Juni Juli )selama 5 hari. Diselenggarakan sebagai ucapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, telah memberkahi hasil bumi yang berlimpah. Dalam upacara ini terselip tradisi kaul,dan ngejot (memberikan sekedar) kepada warga yang tidak maturan dengan sarana Guling. Kegiatan ritual ini mencerminkan nilai kebersamaan, ekonomi dan rasa jengah. Upacara ini merupakan rutinitas dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.
Kata kunci : Tradisi Usaba Guling, Usaba Sumbu
BUDAYA MASYARAKAT BIMA
KABUPATEN BIMA, NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : Ni Luh Ariani
Masyarakat Bima Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu etnis dari beragam etnik atau suku bangsa yang ada di Indonesia. Sebagaimana yang telah diketahui Indonesia terdiri dari beragam etnik dan suku bangsa yang mempunyai ciri khas masing-masing, budaya masyarakat Bima Nusa Tenggara Barat turut serta mewarnai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Melalui penelitian kualitatif tentang budaya masyarakat Bima ini akan dicoba untuk diungkapkan tentangkebudayaan masyarakat Bima hingga sekarang ini. Seperti halnya berbagai budaya masyarakat lainnya di Indonesia, kebudayaan Masyarakat Bima di Nusa Tenggara Barat juga mengalami perkembangan dan perubahan yang cenderung dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perkembangan jaman dan pesatnya kemajuan teknologi serta derasnya arus globalisasi dan tentunya mempengaruhi terjadinya perkembangan kebudayaan masyarakat pendukungnya (masyarakatBima). Beberapa unsur budaya yang ada pada kebudayaan masyarakat Bima ada yang mengalami perubahan bahkan punah, namun terdapat pula beberapa yang masih bertahan hingga sekarang ini, misalnya beberapa upacara tradisional seperti upacara Ua Pua, dan upacara daur hidup hingga kini masih dilakukan. Juga beberapa jenis kesenian masih bisa disaksikan.
Kata Kunci: Budaya, Masyarakat Bima, Perkembangan.
CERITA RAKYAT BIMA WADU NTANDA RAHI
(TEMA, AMANAT DAN NILAI BUDAYA)
Oleh : Yufiza
Cerita rakyat adalah cerita yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pemiliknya, diwariskan secara turun temurun dan diakui milik bersama. Cerita rakyat sebagai milik masyarakat merupakan pencerminan hidup dalam kehidupan serta pernyataan sikap dan jalan pikiran dari masyarakat yang memilikinya. Seiring dengan perkembangan jaman orang-orang yang mampu atau menguasai cerita rakyat semakin langka. Hal ini disebabkan selain para penutur cerita yang berusia lanjut, sudah banyak meninggal dan para generasi muda tidak tertarik akan cerita rakyat. Apabila hal tersebut tidak didukung dengan upaya pencatatan, pelestarian dan penelitian maka cerita rakyat sebagai warisan budaya cepat atau lambat akan punah. Hal ini akan merugikan baik bagi bangsa Indonesia maupun masyarakat Bima sebagai pewaris cerita rakyat Wadu Ntanda Rahi, karena hilangnya nilai-nilai budaya yang berharga dari cerita rakyat tersebut. Cerita rakyat sangat besar manfaatnya karena di dalamnya terkandung unsur pendidikan, kepahlawanan, adat istiadat, ajaran moral atau nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakatnya.
Kata kunci : cerita rakyat, nilai budaya
POTENSI PENGEMBANGAN WISATA DI BIMA
NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : Hartono
Kabupaten Bima sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan yang memiliki nilai sejarah, atraksi budaya, dan alam yangmempesona sehingga sangat diharapkan seluruh masyarakat ikut rasa memiliki untuk selanjutnya bisa dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Pertumbuhan di sektor pariwisata di Kabupaten Bima diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya dan mampu membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya sehingga masyarakat dapat mengambil manfaat secara ekonomi. Pertumbuhan pariwisata juga akan membawa dampak terhadap budaya setempat, lingkungan, dan ekonomi. Oleh karena itu, pengaruh-pengaruh budaya asing yang sifatnya negatif perlu diwaspadai sehingga kelestarian budaya bisa tetap terjaga. Dalam hal ini peranan tokoh masyarakat, para ulama, instansi terkait dan kesadaran masyarakat sangat diharapkan sehingga perkembangan kepariwisataan di Kabupaten Bima bisa berjalan seiring dengan perkembangan masyarakatnya yang bercorak religius.Dukungan pemerintah, pihak terkait, dan masyarakat setempat untuk menangani secara maksimal potensi yang dimiliki sehingga dapat dikembangkan dan dilestarikan, yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan dapat diwariskan kepada genarasi mendatang. Pelestarian dan pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata alam, wisata bahari,wisata sejarah dan wisata budaya Kabupaten Bima sehingga bisa menjadi daerah Destinasi Pariwisata.
Kata kunci: potensi wisata, budaya
UPACARA PATI KARAPAU
Oleh : I Made Satyananda
Musim kemarau yang berkepanjangan, hasil pertanian dan tangkapan di laut kurang mengembirakan, serta wabah penyakit melanda menjadi tanda yang serius bagi tetua adat untuk segera melakukan pendinginan atau pemulihan alam. Ritual Pua dan Pati Karapau merupakan salah satu jawabannya. Ritual adat lima tahunan ini merupakan salah satu upaya agar keadaan alam beserta dengan isinya tetap dalam keadaan harmonis, tenang, rukun dan damai. Bagi komunitas pendukung ritual ini angka lima menyimbolkan keberuntungan. Tradisi tua ini menunjukkan betapa masyarakat Nitunglea masih berpegang kuat pada akar budaya mereka. Ritual Pua dan Pati Karapau adalah pembelajaran tentang penghargaan pada nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan tujuan menjaga keseimbangan hubungan antara Wujud Tertinggi, leluhur, alam semesta dan sesama manusia.
Kata kunci : upacara, adat dan budaya
SISTEM EKONOMI PERTANIAN TRADISIONAL PADA SUKU BANGSA ATONI DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : I Ketut Sudharma Putra
Sistem ekonomi pertanian tradisional pada masyarakat suku bangsa Atoni di desa Camplong II, kabupaten Kupang, propinsi Nusa Tenggara Timur memiliki pola yang berbeda dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan tujuan penelitian bermaksud untuk menjelaskan pola produksi dan distribusi dalam bidang pertanian, serta pengaruh sosial budaya dalam kaitannya dengan sistem ekonomi pertanian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Pola produksi dan distribusi telah dilaksanakan dalam sistem ekonomi pertanian tradisional. Sedangkan mengenai pengaruh sosial maupun budaya yang dapat diamati yaitu adanya pengaruh pemimpin tradisional dan kearifan lokal masyarakat setempat. Sistem ekonomi pertanian tradisional memiliki dampak positip bagi kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya, terutama dalam mempertahankan nilai-nilai budaya. Untuk itu sistem ekonomi pertanian tradisional masyarakat suku bangsa Atoni perlu dilestarikan karena bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Kata Kunci : Pertanian Tradisional dan Nilai-Nilai Budaya.
POLA PEMUKIMAN MASYARAKAT
DI PULAU MOYO KABUPATEN SUMBAWA NTT
Oleh : Kadek Dwikayana
Lingkungan budaya yang termasuk didalamnya adalah merupakan suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan kehidupan sosial dan budaya pada pemukiman masyarakat serta bertujuan mengungkapkan pola pemukiman masyarakat di Pulau Moyo Kabupaten Sumbawa NTB. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dan observasi serta teknik analisis data yang dipakai adalah teknik analisis data kualitatif. Penduduk yang tinggal di Pulau ini adalah kebanyakan adalah orang Bima atau Dau Mbojo, dan Sumawa sehinggag kehidupan social budayanya banyak dipengaruhi budaya Bima dan Samawa. Pola pemukiman yang ada dan berkembang di Pulau Moyo adalah pola pemukiman mengelompok dan pola pemukiman menyebar yang mayoritas bangunan pemukimannya berupa rumah-rumah panggung.
Kata kunci: Masyarakat, Pemukiman, Rumah Panggung.
PENERAPAN ORNAMEN BALI
PADA BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH
DI KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI
Oleh : I Made Dharma Suteja
Penelitian tentang Penerapan Ornamen Bali Pada Bangunan Gedung Pemerintah di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali ini, mencoba untuk mengkaji secara paradigma budaya (bentuk, fungsi, makna) mengenai aspek-aspek tradisi khusunya mengenai pemasangan ornamen Bali pada bangunan gedung pemerintah dalam bentuk ukiran ditinjau dari bahan (bentuk), proses pembuatan (fungsi), tata letak (makna) dengan mempergunakan teori estetika, teori fungsionalisme dan teori semiotika yang dipergunakan memecahkan permasalahan. Dengan analisis kualitatif, kajian ini menggunakan observasi, wawancara, dan analisis dokumen dalam pengumpulan datanya. Hasil penelitian ini menunjukkan, bentuk ornamen yang tertua umumnya berupa hiasan geometrik, berupa garis lurus atau lengkung dan juga lingkaran-lingkaran yang diulang-ulang secara ritmik, Kemudian digunakan bentuk-bentuk yang ditiru dari benda-benda alam dijadikan motif ornamen, seperti motif awan, api, air, batu-batuan, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan motif manusia. Mengingat ornamen adalah salah satu produk seni sebagai unsur budaya yang memiliki fungsi atau kegunaan memuaskan naluri keindahan, dengan pahatan-pahatan yang diterapkan dalam bangunan gedung pemerintah sebagai bahasa bentuk simbol komunikasi yang mampu menterjemahkan antara tujuan pemakai dengan orang lain sebagai penikmat, dengan memiliki fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi simbolis, fungsi estetika, fungsi sosial, dan fungsi ekspresi. Ada beberapa bentuk makna yang tersirat dalam bentuk ornamen yang diterapkan dalam bangunan gedung seperti: makna sekuler (makna estetika dan makna ekspresi), dan makna simbolis.
Kata Kunci : Penerapan, Ornamen Bali, Bangunan Gedung Pemerintah
UPACARA-UPACARA TRADISIONAL PADA MASYARAKAT BIMA
DI DUSUN LABUHAN HAJI, DESA LABUHAN HAJI
KECAMATAN LABUHAN BADAS, KABUPATEN SUMBAWA
Oleh : Raj. Riana Dyah P dan I Wayan Suca Sumadi
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upacara pada masyarakat Bima di Dusun Labuhan Aji. Ada upacara tradisional yang masih hidup dan berkembang yang mengandung kepercayaan yang secara turun-temurun. Kepercayaan tersebut melekat dan tidak dapat terlepas dari tradisi yang ada. Upacara daur hidup: upacara selamatan perut (kiri loko), upacara menyongsong kelahiran bayi, upacara cafi sari, upacara pencukuran rambut bayi (boru ro dore), upacara khatam Quran, upacara khitanan dan potong gigi (suna ro ndoso), upacara perkawinan, upacara kematian sedangkan upacara yang berkaitan dengan pekerjaan yaitu upacara pembukaan ladang dan upacara meminta hujan.
Metode pengumpulan data adalah observasi, wawancara, studi pustaka. Studi menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif. Studi menunjukkan masyarakat Bima di daerah ini melaksanakan upacara seperti masyarakat Bima di daerah asalnya meskipun dengan relatif lebih sederhana dan praktis karena lokasi daerah ini yang jauh dari kota dan kurang transportasi.
Kata kunci: Upacara-upacara Tradisional, Masyarakat Bima, Dusun Labuhan Haji
KEBERADAAN DAN FUNGSI PERALATAN PRODUKSI PERTANIAN TRADISIONAL DAERAH BALI
Oleh : I MADE SUMERTA
Penentuan Desa Jatiluwih sebagai lokasi penelitian karena para penduduknya yang mayoritas masih bergelut di bidang pertanian sudah tentu akan tetap mempertahankan kebiasaan yang telah ditanamkan oleh generasi pendahulunya. Penerapan sistem pertanian tadisional masih tetap dipertahankan dengan pemakaian peralatan pertanian yang tradisional pula. Dengan demikian keberadaan alat pertanian tradisional di daerah ini masih bertahan. Bahkan masing-masing petani yang ada di daerah ini masih memiliki peralatan pertanian tradisional yang masih mereka simpan di masing-masing rumah. Apabila diperlukan atau mulai mengerjakan sawah, alat-alat tersebut akan dikeluarkan dan dipergunakan untuk mengolah lahan pertanian mereka.
Keberadaan dan fungsi peralatan pertanian tadisinal di bidang pertanian di Bali tidak hanya terdapat di daeah Jatiluwih saja melainkan juga di desa-desa lain terutama desa-desa yang berada di daerah pegunungan yang memiliki kemiringan tanah yang cukup tinggi. Pemakaian peralatan modern agak sulit dilakukan oleh karenanya mereka masih mempergunakan peralatan tradisional. Dengan demikian keberadaan peralatan pertanian tradisional tersebut juga tedapat di daerah dimaksud.
Selain tempat tersebut di atas, untuk dapat melihat dan menenal lebih dekat tentang keberadaan peralatan pertanian tradisional tersebut dapat mengunjungi Kantor Museum Subak yang terdapat di Kabupaten Tabanan tepatnya di desa Sanggulan. Di Museum Subak ini telah dipajang perlatan pertanian tradisional mulai dari mulai pengolahan tanah sampai pada pemungutan hasil pertanian. Mengenai fungsi masing-masing peralatan tersebut dapat ditanyakan langsung pada petugas yang ada dan dapat dibaca pada keterangan yang ada pada masing-masing alat dimaksud.
Kata Kunci : Peralatan Produksi, Pertanian Tradisional
PELABUHAN KUPANG DALAM PERDAGANGAN
ABAD KE-19
Oleh : I Putu Kamasan Sanjaya
Pulau Timor merupakan pulau penghasil kayu cendana terbesar di Nusa Tenggara dengan kualitas terbaik hingga dikenal dengan sebutan Sandelwood Island. Kayu cendana memiliki kegunaan yang besar, serta keuntungan yang luar biasa hingga banyak diperdagangkan sejak jaman masehi. Karena hal tersebut pulau Timor banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang lokal maupun asing untuk berdagang. Salah satu pelabuhan yang terbaik di Nusa Tenggara adalah Pelabuhan Kupang yang sekaligus telah menjadi pusat perdagangan kayu cendana. Dengan menjadi pusat perdagangan kayu cendana, maka Pelabuhan Kupang telah menjadi rebutan kekuasaan asing karena potensi perdagangannya yang sangat menguntungkan. Akibat dari hal tersebut, maka Pelabuhan Kupang memberi arti tersendiri baik bagi perkembangan ekonomi dan politik Nusa Tenggara maupun bagi perkembangan ekonomi dan politik yang lebih luas yaitu Asia-Eropa.
Kata kunci: Pelabuhan, Perdagangan, Abad ke-19.
SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN
(SEBUAH BIOGRAFI SEORANG SULTAN BIMA XIV)
Oleh : I Made Sumarja
Sultan Muhammad Salahuddin lahir pada tanggal 14 Juli 1889 adalah salah seorang putra Sultan Ibrahim. Beliau meninggal di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1951. Semasa hidupnya beliau berperan dalam perkembangan sejarah Bima. Guna mewujudkan cita-citanya Sultan Salahuddin melaksanakan perjuangannya secara bertahap disesuaikan dengan perkembangan politik pada masa itu. Perjuangan diawli dengan memajukan pendidikan agama untuk meningkatkan kualitas iman taqwa dan memajukan pendidikan umum sangat penting, sebab berdasarkan pengalaman sejarah salah satu kelemahan bangsa kita dalam melawan penjajah karena rendahnya kualitas ilmu pengetahuan. Organisasi sosial politik juga menjadi perhatian yang penting dan dibina oleh Sultan untuk berkembang di Bima, karena kiprah organisasi sosial politik modern ini banyak membantu proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Begitu besar jasa-jasa dan pengorbanan Sultan Muhammad Salahuddin terhadap rakyat Bima, maka masyarakat Bima sangat merindukan Sultan Muhammad Salahuddin di kenang sebagai Pahlawan Kusuma Bangsa.
Kata kunci: Biografi Tokoh Sejarah
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA
DI DESA TULAMBEN KECAMATAN KUBU
KABUPATEN KARANGASEM BALI
Oleh : I Gusti Ayu Armini
Sejalan dengan perkembangan industri pariwisata Bali, Desa Tulamben Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem berkembang industri pariwisata bahari yang mengedepankan ekspos potensi alam bawah laut atau diving (penyelaman). Pengembangan pariwisata bahari tersebut berkembang signifikan dan memberi berbagai pengaruh bagi kehidupan sosial budaya masyarakat. Masyarakat ikut terlibat dalam berbagai aktivitas pariwisata, khususnya partisipasi memanfaatkan industri pariwisata dalam sekala kecil, khususnya di bidang jasa. Partisipasi masyarakat terbukti dengan adanya kelompok-kelompok penjual jasa pelayanan kepada para wisatawan. Kelompok-kelompok tersebut bertujuan untuk mencari tambahan penghasilan dan meningkatkan pendapatan anggotanya.
Kata Kunci : faktor-faktor pendukung pariwisata, partisipasi masyarakat, kelompok pelayanan jasa.
PENELITIAN TAHUN 2010
KERAJINAN TRADISIONAL PERAK DAN KUNINGAN
DI DESA KAMASAN
DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF
BERBASIS BUDAYA BALI
oleh : A.A Gde Rai Griya dan Kadek Dwikayana
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan jenis hasil, proses produksi dan distribusi kerajinan perak dan kuningan di desa kamasan yang masih exist sampai saat ini, serta bertujuan untuk memahami fungsi dan nilai hasil kerajinan perak dan kuningan di desa kamasan berbasis budaya Bali. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dan observasi serta teknik analisis data yang dipakai adalah teknik analisis data kualitatif. Kerajinan dari perak dan kuningan di Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung menghasilkan bermacam-macam jenis barang kerajinan, seperti: bokor, batil (tempat air suci), dulang (tempat sesajen), caratan tempat air (ketel) dan yang lainnya sesuai dengan pesanan. Barang yang dihasilkan dari pengerajin perak dan kuningan di Desa Kamasan tersebut mempunyai fungsi ekonomi, sosial, budaya dan juga mengandung nilai-nilai seperti nilai keagamaan, nilai spiritual dan nilai estetika.
Kata kunci: kerajianan, fungsi, nilai
UPACARA PETIK LAUT DI DESA PENGAMBENGAN, KECAMATAN NEGARA, KABUPATEN JEMBRANA
oleh : Ni Luh Ariani
Hampir di seluruh daerah nusantara memiliki tradisi masing-masing. Upacara petik laut adalah salah satu tradisi dari masyarakat pesisir di Kabupaten Jembrana dalam menghargai dan mensyukuri apa yang telah laut berikan kepada masyarakat dalam upaya untuk mempertahankan kehidupan mereka. Dalam upacara petik laut terdapat nilai-nilai yang menjadi panutan atau tuntunan dalam menjalani kehidupan, maka tradisi upacara ini terus dilaksanakan oleh masyarakat nelayan di Jembrana. Nilai-nilai kehidupan seperti nilai religius, dan nilai estetika, serta terdapat pula fungsi seperti fungsi sosial, psikologis, religius, simbolis dan lain sebagainya. Nilai dan fungsi yang terdapat dalam rangkaian upacara petik laut ini diperkenalkan kepada masyarakat, terutama masyarakat nelayan sehingga diharapkan masyarakat menjadi lebih menghargai alam (laut) yang telah memberikan isinya untuk kesejahteraan mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, and pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan dan studi kepustakaan. Selain itu juga mengadakan wawancara mendalam dengan panitia pelaksana upacara, tokoh agama, dan masyarakat setempat yang melaksanakan upacara tersebut.
Kata kunci: Tradisi, Upacara, Nilai, Fungsi.
BUDAYA MASYARAKAT ROTE NDAO
DI NUSA TENGGARA TIMUR
Oleh : Hartono
Rote Ndao sebagai pusat seni musik sasando telah terkenal, baik nasional maupun internasional. Selain itu juga terdapat budaya masyarakat dengan keunikan-keunikan tersendiri yang terdapat dalam sistem pengetahuan, pola perkampungan, upacara siklus daur hidup, bahasa, kesenian, dan potensi alamnya. Masyarakat Rote Ndao dengan kekhasan budaya suku bangsa Rote yang masih mempertahan adat istiadat dan budayanya. Keunikan suku bangsa dengan keanekaragaman kultur budayanya di Indonesia, lebih khusus lagi Rote Ndao merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatan, baik wisatawan manca negara maupun wisatawan nusantara. Budaya khas yang tercermin dalam suatu kehidupan masyarakat adalah suatu ciri yang menjadi kekayaan sebuah bangsa. Sebagai kekayaan, pengetahuan tentang ciri khas budaya dalam kehidupan masyarakat perlu disebarluaskan khususnya bagi generasi penerus yang akan mewarisi seluruh kekayaan bangsa.
kata kunci: budaya masyarakat, destinasi pariwisata
KEHIDUPAN DEMOKRASI PADA MASYARAKAT BALI AGA
DI DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN
KARANGASEM BALI
Oleh : Wayan Gede Suacana
Tujuan penelitian ini adalah mencermati bagaimana implementasi nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan masyarakat Bali Aga di Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Di samping itu juga ingin diketahui apakah pelaksanaannya serupa dengan praktek kehidupan demokrasi yang dikenal di negara-negara Barat. Metode deskriptif yang digunakan menekankan pemecahan masalah yang ditemui pada saat penelitian dilakukan, dengan mengungkapkan data yang relevan kemudian dianalisis untuk dapat ditafsirkan dan pada akhirnya diperoleh suatu kesimpulan yang tepat. Dari hasil pembahasan ditemui implementasi nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan masyarakat Bali Aga di Desa Adat Tenganan Pegringsingan sangat jelas terlihat dari: tingkat rotasi kekuasaan pemerintahan desa adat; transparansi sistem pengerekrutan pimpinan desa adat; kesinambungan dan keteraturan pergantian kedudukan aparat desa adat; penghargaan terhadap hak-hak individu; toleransi terhadap perbedaan pendapat dalam sangkepan, serta adanya akuntabilitas dari pemegang pemimpin yang berkuasa terbukti kebenarannya. Temuan ini sekaligus membuktikan hipotesis penelitian yang dibuat sebelumnya.
Kata-kata Kunci: kebudayaan politik, budaya demokrasi, sistem pemerintahan desa adat (tradisional).
SUKU HELONG DI KEPULAUAN SEMAU
( DALAM PERSPEKTIF BUDAYA)
Oleh : I Wayan Rupa
Penelitian terhadap budaya suku helong dengan merujuk metode deskriptif kualitatif. Metode ini dapat membantu mengungkap jati diri suku Helong dari berbagai segi kehidupan. Awalnya suku Helong berasal dari kepulauan Maluku. Mereka hengkang ke daratan Timor akibat dari peperangan Ternate melawan Tidore, Ternate dibantu oleh Portugis sedangkan Tidore dibantu oleh Spanyol. Mereka sampai di Tanjung Hero Lospalos Dili, dari Dili menuju ke daratan Timor lainnya. Mereka serta merta dengan tradisi dan budaya sampai sekarang. Budaya Helong pernah bersandingan dengan budaya animis. Budaya animis berakibat pada keterpojokkan identitas suku, dulunya suku ini dianggap angker, serem dan dapat mencelakai suku lainnya. Namun setelah tahun 1947 akibat desakan dari para misionaris akhirnya kembali ke agama murni, Kristen. Sekarang budaya Helong tetap eksis dan mampu mensejajarkan diri dengan budaya suku lainnya.
Kata kunci: Suku Helong dan Budaya
KEGIATAN PERKUMPULAN BALI DARMA LAKSANA
PADA MASA KOLONIAL
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti
Perkembangan pendidikan masa kolonial di Bali sangat di pengaruhi oleh perkembangan pendidikan di Pulau Jawa. Pemuda-pemuda Bali yang memiliki semangat untuk mengenyam ilmu pengetahuan banyak yang bersekolah di Jawa.Pemuda-pemuda Bali yang telah menempuh pendidikan inilah mulai mengembangkan pendidikan modern di Bali. Para pemuda banyak mewadahi dirinya dengan mendirikan perkumpulan yang salah satunya terbentuk adalah perkumpulan Bali Darma Laksana (BDL). BDL memfokuskan arah perjuangannnya dengan melakukan pencerdasan terhadap masyarakat untuk setidaknya mulai menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Disinilah BDL dalam aktifitasnya melakukan gerakan kemasyarakat Bali mengajak agar orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya. BDL juga membuka kursus-kursus gratis kepada masyarakat. Selain itu menerbitkan sebuah majalah Djatajoe untuk memberikan penerangan dan pemikiran terhadap masyarakat khusunya di Bali.
Kata Kunci: Perkembangan Pendidikan, Bali Darma Laksana, dan kolonial.
ETOS KERJA MASYARAKAT PELADANG DALAM MENYIKAPI LAHAN KERING DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
Oleh : I Gusti Ayu Armini
Lahan kering merupakan kondisi geografi umum Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kondisi alam yang kering disikapi dengan kearifan lokal dengan menerapkan pola mata pencaharian lahan kering atau berladang. Mereka memiliki pandangan holistik terhadap kondisi alam bahwa alam merupakan sumber kehidupan yang perlu dijaga dan diperlakukan dengan hati-hati. Pola pandangan demikian memunculkan karakter masyarakat yang rajin dan ulet bekerja, sederhana, taat pada aturan adat, namun cenderung emosional dan gemar menghadiri pesta. Tradisi masyarakat peladang merupakan bentuk tanggapan aktif masyarakat terhadap lingkungan alam sekitar dengan menerapkan pola pertanian lahan kering meliputi ladang berpindah, ladang menetap, ladang berotasi, mamar, beternak, penyimpanan hasil ladang, dan mencari berbagai pekerjaan sampingan.
Kata Kunci : Lahan kering, masyarakat peladang
PERGESERAN KONSEP TATA RUANG RUMAH TINGGAL
MASYARAKAT PERKOTAAN SINGARAJA
KABUPATEN BULELENG PROVINSI BALI
Oleh :I Wayan Sudarma
Tata ruang rumah tinggal adat Bali dibagi menjadi tiga bagian yakni; Parhyangan, pawongan, dan palemahan. Keterkaitan kebudayaan dengan falsafah Hindu masyarakat Bali memiliki keyakinan bahwa bangunan adat Bali adalah bangunan yang hidup secara spiritual. Keyakinan ini diperkuat adanya upacara-upacara dilakukan menjelang membangun. Tata ruang rumah tinggal adat Bali tidak semata wadah fisik manusia pelaku budaya, bangunan rumah tinggal merupakan sebuah proses panjang yang dipengaruhi oleh zaman, tempat tinggal, teknologi, dan bentuk pemerintahan. Kepunahan, pergeseran, perubahan, dan sebagainya semuanya bersumber pada prilaku manusia sebagai perancang, pemusnah, ataupun pemelihara pelestari lingkungan alam. Dalam perjalanannya, tata ruang rumah adat Bali di samping sebagai tempat tinggal penghininya, sekaligus merupakan refleksi peradaban manusia zaman sekarang.
Kata Kunci : Tata ruang rumah tinggal, peradaban, pergeseran.
PACUAN KUDA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH DAN BUDAYA
DI KABUPATEN SUMBAWA
Oleh : I Made Sumerta dan I Putu Kamasan Sanjaya
Kuda sebagai ikon masyarakat Sumbawa telah dikenal sejak masa lampau yaitu pada masa perdagangan di Nusantara. Kuda Sumbawa sangat terkenal akan performanya yang kuat memikul barang dan larinya sangat kencang sekalipun bentuk tubuhnya yang agak kecil jika dibanding dengan kuda Eropa. Wilayah Kabupaten Sumbawa yang banyak sabana membuat peternakan kuda sangat eksis. Sambil beternak dan menggembala sesudah masa panen di sawah, masyarakat Sumbawa sering melakukan permainan rakyat yang disebut dengan Main Jaran. Permainan ini berkembang secara kreatif menjadi sebuah olah raga pacuan kuda. Secara semiotik, pacuan kuda merupakan sebuah simbol bagi masyarakat Sumbawa yang bersifat fungsional bagi perkembangan budaya masyarakatnya. Dalam budaya pacuan kuda terkandung nilai-nilai luhur budaya masyarakat Sumbawa yang memberi fungsi dan makna bagi keseimbangan hidup masyarakat, budaya dan pariwisata di Kabupaten Sumbawa. Hingga permainan ini dijadikan sebagai ikon wisata di Kabupaten Sumbawa dengan agenda tahunan yang tetap.
Kata Kunci; Pacuan Kuda, Perspektif Sejarah, Perspektif Budaya.
PERANAN SELAT BALI MASA REVOLUSI PISIK
TAHUN 1945 1949
Oleh : I Made Sumarja
Peranan Selat Bali pada masa Revolusi Pisik sangat penting baik didalam pengiriman bantuan senjata, tentara dan sebagainya, sehingga diawasi sangat ketat oleh Belanda supaya hubungan pejuang Bali dengan pejuang yang ada di Jawa terbatas. Selat Bali sepanjang revolusi pisik menempati posisi sebagai garis hidup bagi perjuangan di Bali karena sebagai tempat lalulintas dan penghubung para pejuang di Bali dengan pejuang yang ada di Jawa. Perjuangan bersenjata di Bali ditentukan terutama karena berhasil tidaknya usaha untuk mempertahankan jalur hubungan Jawa Bali melalui daerah Bali Barat yaitu Selat Bali. Perjuangan setelah kemerdekaan ini dikenal dengan Perjuangan Revolusi Pisik yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat dengan taktik perjuangan gerilya.
Kata kunci: Selat Bali masa Revolusi Pisik
PERUBAHAN SOSIAL DI PULAU MOYO
NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : Nuryahman
Keindahan Pulau Moyo yang dua pertiga wilayahnya merupakan kawasan cagar alam yang menarik, kawasan perairan dengan pesona yang indah serta penuh dengan ikan aneka warna sangat menarik untuk snorkeling dan menyelam. Daratan Pulau Moyo merupakan kawasan padang savana dan hutan tempat hunian berbagai hewan liar seperti rusa, babi hutan, dan berbagai jenis burung dapat dijadikan tempat wisata berburu. Wilayah Pulau Moyo yang sebagian besar adalah hutan tropis dan padang rumput (savana) telah dijadikan Kawasan Wisata Taman Buru (TB) Pulau Moyo, wilayah perairannya menjadi Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Moyo dikelola oleh pihak ketiga yaitu Amanwana Resort yang menyediakan akomodasi lengkap bagi wisatawan. Pulau Moyo dikembangkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu destinasi wisata kelas dunia. Dengan dijadikannya kawasan wisata, pulau ini mengalami berbagai perubahan baik fisik maupun sosial, dinamika masyarakat dan kehidupannya karena telah menjadi kawasan wisata yang menarik.
Kata Kunci : destinasi wisata, wisata buru, wisata laut, perubahan sosial, dinamika masyarakat.
TRADISI MEMBISU DALAM KONTEKS RITUAL KEAGAMAAN
DI PURA DALEM UMBALAN, KECAMATAN TEMBUKU KABUPATEN BANGLI
Oleh : I Made Purna
Di Pura Dalem Pingit Desa Pekraman Umbalan, sampai saat ini masih dijumpai tradisi membisu. Pada saat upacara Piodalan sangat pantang membunyikan panca gita (suara genta, gamelan, kidung, kulkul (kentongan), dan suara manusia). Anggota umat Hindu yang hadir berkomunikasi hanya dengan menggunakan bahasa isyarat. Tradisi membisu dilakukan terutama di bagian dalam (inti) pura. Berbicara dan tertawa di luar pura dibolehkan. Tetapi begitu memasuki areal pura membisu menjadi keyakinan. Jika dilanggar malapetaka menunggu. Tradisi membisu merupakan pemaknaan salah satu ajaran catur yoga, yaitu Raja Yoga. Praktek perilaku Raja Yoga mengutamakan brata, tapa, yoga dan semedi yang secara kasat mata.
Kata Kunci : Tradisi Membisu
KEPERCAYAAN KOMUNITAS ADAT DESA SEMBALUN BUMBUNG
DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Made Suarsana
Penelitian terhadap kepercayaan komunitas adat di Desa Sembalun Bumbung, Provinsi Nusa Tenggara Barat ini bersifat deskriftif kualitatif. Penelitian ini mengungkapkan kepercayaan asli komunitas adat Sembalun Bumbung yang berbentuk animisme dan dinamisme dengan kearifan lokal yang terkandung didalamnya. Kepercayaan tersebut berfungsi menata kehidupan serta hubungan antara masyarakat Sembalun Bumbung dengan Tuhannya, dengan sesama manusia serta dengan lingkungan alamnya. Kepercayaan itu pula mengandung makna kehidupan yang sangat mendalam yakni dari mana manusia itu berasal dan akan kemana setelah manusia itu meninggalkan dunia fana ini. Kepercayaan asli tersebut sampai kini masih tetap eksis dalam komunitas adat Sembalun Bumbung yang warganya menganut agama Islam.
Kata Kunci : Kepercayaan, Komunitas Adat, dan kearifan lokal.
SEJARAH PERJUANGAN DUA TORU MELAWAN BELANDA
DI TANA AI SIKKA DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER
Oleh : Cokorda Istri Suryawati
Sejak masa lampau perempuan telah memiliki peran yang sangat strategis dalam perjuangan mengusir penjajahan di Nusantara. Salah satunya adalah Dua Toru yang merupakan seorang pejuang wanita dari Sikka yang berani menentang Kolonial Belanda pada tahun 1912. Dalam perspektif gender, Dua Toru telah mengambil posisi peran laki-laki sebagai pemimpin perjuangan yang penuh dengan kekerasan, sekalipun tanpa didukung oleh persenjataan yang memadai, kekuatan yang kecil, serta taktik yang masih tradisional. Dua Toru memimpin kaum petani di wilayah Tana Ai yang tertekan oleh pemungutan pajak (belasting), kerja paksa serta degradasi sistem pemerintah tradisional membuat para petani berontak melawan Kolonial Belanda di Sikka. Secara teoritis gerakan sosial kaum petani semacam ini sangat mudah ditumpas oleh Belanda dengan terbunuhnya Dua Toru sebagai pemimpin perjuangan. Namun dari apa yang dilakukan Dua Toru telah memberikan dampak serta citra yang besar bagi suatu tatanan nilai baru bagi kehidupan masyarakat Sikka seperti nilai kepahlawanan, nilai religius dan nilai sosial.
Kata Kunci; Sejarah, Pejuang wanita, Perspektif Gender.
GEGURITAN AHMAD MUHAMMAD
DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JEMBRANA, BALI
Oleh : Ida Bagus Sugianto
Geguritan adalah salah satu karya sastra yang populer di Bali. Suatu bentuk karya sastra yang berkembang di Kabupaten Jembrana, Bali adalah Geguritan Ahmad Muhammad, yang merupakan geguritan perpaduan antara dua kebudayaan yaitu, kebudayaan Hindu dan Islam. Karya ini merupakan suatu varian budaya yang unik, yang terbentuk dari dua kebudayaan tadi. Geguritan yang bernafaskan Islam yang berkembang di Jembrana ini, tidak terlepas dari masuknya suku-suku pendatang seperti Bugis dan Pontianak ke Jembrana. Kebudayaan Plural yang berkembang kemudian menciptakan suatu karya budaya yang dapat mengembangkan varian yang unik dan digunakan dalam upacara siklus hidup baik masyarakat Bali-Hindu maupun masyarakat Bali-Islam.
Kata Kunci: kebudayaan plural, karya sastra unik.
PAKAIAN ADAT DI MANULAI 2 KOTA KUPANG
Oleh : I Made Dharma Suteja
Penelitian Pakaian Adat di Manulai II Kota Kupang ini, membahas secara deskriptif pakaian adat menjadi warisan leluhur agar dapat dilestarikan dan bahkan dapat dikembangkan, namun tidak meninggalkan nilai-nilai lama yang sangat sarat dengan kandungan pesan maupun makna di dalamnya. Penelitian ini mempergunakan teori estetika, teori fungsionalisme dan teori Semiotika untuk memecahkan permasalahan. Hasil penelitian ini menunjukkan, pakain adat sebagai salah satu indentitas daerah penduduk di Nusa Tenggara Timur dan secara khusus warga Kelurahan Manulai II kota Kupang tidak bisa terlepas dari proses pembuatan kain atau menenun sebagai bahan dasar pakaian adat. Pakaian adat dengan motif tenunan yang khas juga menunjukkan status sosial si pemakai, menunjukkan keturunan, tempat asal, bangsawan atau orang kebanyakan. Kekuatan spiritual dari tenunan dapat dilihat dari kombinasi yang serasi atara seni ikat, mewarnai dan menenun yang diiwai oleh kepercayaan dan pandangan hidup setiap suku, seingga hasil tenunannya sangat dihargai, dicintai dan dibanggakan.
Kata Kunci : Pakaian Adat
POLA PEMUKIMAN MASYARAKAT DESA SEMBALUN LAWANG
KECAMATAN SEMBALUN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Wayan Rupa dan I Made Suarsana
Penelitian terhadap pola pemukiman masyarakat Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Provinsi Nusa Tenggara Barat ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengungkap pola pemukiman masyarakat Desa Sembalun Lawang yang berbentuk pemukiman yang mengelompok dan pemukiman yang menyebar. Terjadinya pola pemukiman yang seperti itu karena disesuaikan dengan keadaan penduduk, situasi dan kondisi sosial budaya, serta pekerjaan masing-masing penduduk. Namun demikian, rasa persatuan dan kesatuan diantara mereka masih terjalin utuh dalam satu kesatuan di Desa Sembalun Lawang.
Kata Kunci : Pola Pemukiman, Mengelompok, Menyebar.
TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI DESA LABUHAN BADAS KABUPATEN SUMBAWA
Oleh : I Ketut Sudharma Putra
Toleransi antar umat beragama di Desa Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa sangat diperlukan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, sejahtera dan damai. Terwujudnya toleransi antar umat beragama di Desa Labuhan Badas karena didukung oleh beberapa faktor, terutama faktor budaya dan sosial. Toleransi berlangsung pada berbagai bidang kehidupan, baik dalam kehidupan keagamaan, aktivitas sosial dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Toleransi dalam kehidupan keagamaan dapat dilihat pada saat perayaan hari-hari besar keagamaan, toleransi dalam aktivitas sosial dapat dilihat saat mereka melaksanakan aktivitas-aktivitas sosial, demikian pula toleransi dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat saat melaksanakan aktivitas keseharian mereka. Masyarakat dalam mewujudkan tujuan bersama, mereka selalu melakukan kerjasama dan saling membantu (gotong-royong).
Kata Kunci : Toleransi, Kerjasama dan Gotong-royong.
INVENTARISASI KAIN TRADISIONAL DAERAH BALI
Oleh : I Made Sumerta
Penulisan inventarisasi kain tradisional daerah Bali merupakan salah satu usaha untuk melestarikan satu unsur budaya yang mengandung nilai luhur yang perlu disebarluaskan kepada generasi penerus. Dalam penulisan tentang kain tradisional daerah Bali akan berusaha mengungkap hal-hal yang meliputi antara lain : jenis-jenis kain tradisional Bali, makna dan fungsi dari aspek religius, aspek ekonomi, maupun aspek social budaya lainnya, dinamika kain tradisional Bali dari masa ke masa serta strategi pelestraian sebagai pengembangan budaya kreatif. Teori yang dipakai dalam inventarisasi kain tradisional daerah Bali diantaranya teori fungsional dari Malinowski untuk menelaah tentang fungsi kain tradisional Bali. Teori interaksi simbolik dipakai untuk menelaah tentang symbol-simbol yang terdapat pada kain tradisional tersebut. Teori integritas untuk menganalisa adanya nilai-nilai luhur budaya nasional yang dapat digunakan integrasi bangsa dengan mencintai, membanggakan warisan leluhurnya. Teori akulturasi dipakai untuk menelaah adanya pengaruh budaya lain yang terjadi dalam pembuatan kain tradisional tersebut.
Kata Kunci : Inventarisasi Kain Tradisional Daerah Bali
PELABUHAN BIMA ABAD KE-19
Oleh : I Putu Kamasan Sanjaya
Pada jaman perniagaan di Nusantara abad ke-17, peranan pelabuhan menjadi sangat penting sebagai pusat perdagangan. Teluk Bima atau dikenal dengan Pelabuhan Bima memiliki posisi yang sangat strategis sebagai silang perniagaan timur dan barat yang berstatus sebagai pelabuhan alam terbaik di Nusa Tenggara. Pada abad ke-19, Pelabuhan Bima mulai menunjukkan perannya sebagai pelabuhan yang ramai, tenang dan aman bagi perniagaan semenjak jatuhnya Pelabuhan Maluku ke tangan Portugis, sedangkan Makassar, Flores dan Timor jatuh ke tangan Belanda serta meletusnya Gunung Tambora tahun 1815 yang berdampak sangat besar bagi perniagaan di Nusa Tenggara. Sehingga membuat Bima muncul sebagai pusat alternatif perdagangan dan pusat hegemoni di Nusa Tenggara bagian barat dengan menguasai beberapa wilayah seperti Sumbawa, Sumba, Manggarai serta pulau-pulau di antaranya. Dengan demikian Pelabuhan Bima memiliki arti yang sangat strategis bagi Kerajaan Bima maupun bagi perniagaan di Nusantara dan Asia.
Kata Kunci; Peranan, Pelabuhan Bima, Abad ke-19.
UPACARA ADAT NGAYU-AYU PADA MASYARAKAT SADE
DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Ketut Sudharma Putra dan I Wayan Sudarma
Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku, agama, dan penganut aliran kepercayaan. Di bidang agama, warga masyarakat melakukan berbagai aktivitas keagamaan untuk memohon lindungan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan melaksanakan upacara-upacara tertentu. Masyarakat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, melaksanakan pula upacara ngayu-ayu untuk memohon keselamatan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan melaksanakan upacara ngayu-ayu, masyarakat Sade memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, supaya diberkati suatu keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Upacara ngayu-ayu mengandung nilai-nilai budaya yang sangat luhur dan perlu untuk dilestarikan. Nilai-nilai budaya tersebut juga perlu untuk digali dan dikembangkan sehingga bemanfaat untuk masyarakat dan bangsa Indonesia.
Kata kunci : upacara adat ngayu-ayu untuk memohon keselamatan.
SUMBAWA PADA MASA BELANDA SAMPAI REVOLUSI FISIK
1875 1950
Oleh : Ni Luh Ariani dan I Made Sumarja
Masuknya kekuasaan Barat ke Indonesia membawa perubahan kehidupan rakyat. Sejak abad ke-19. Belanda mulai mengadakan pembaharuan politik kolonealnya, mempraktekkan sistem ekonomi baru, hak-hak yang diberikan oleh adat dihapus, upacara dan tatacara yang berlaku di istana kerajaan juga disederhanakan, sehingga ikatan tradisi dalam kehidupan pribumi menjadi lemah. Puncak kekuasaan Belanda di Sumbawa pada masa pemerintahan Sultan Amrullah II, yakni dengan ditandatanganinya pengakuan kekuasaan Belanda atas Sumbawa pada tahun 1875. Kedatangan Jepang yang sangat ditunggu-tunggu oleh rakyat dengan harapan berakhirnya penindasan Belanda, ternyata tidak menjadi kenyataan. Pendudukan Jepang yang singkat tapi mahaganas memperkuat tekad rakyat Sumbawa untuk merebut kemerdekaan agar keadilan sesungguhnya dapat dilaksanakan. Setelah Jepang menyerah dan di proklamirkannya kemerdekaan Indonesia, ternyata Belanda kembali melakukan agresi militernya di bawah naungan Sekutu. Perjuangan setelah kemerdekaan ini di kenal dengan revolusi fisik untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kata kunci: Kolonial Belanda, revolusi fisik
EKSISTENSI ULAMA BIMA PADA AWAL ABAD XX
Oleh : Nuryahman dan Dwi Bambang. S
Bima merupakan Kota/Kabupaten yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini, mempunyai budaya yang bercirikan budaya Islam, hal ini sangat dimungkinkan karena Indonesia terletak pada jalur perdagangan dunia sehingga interaksi para pedagang bahkan para penyebar agama Islam sangatlah intens. Pada jaman dahulu Bima juga diperintah oleh Kesultanan yang menjalankan pemerintahannya dengan hukum Islam. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangatlah perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui muncul dan berkembangnya Agama Islam di Bima serta peranan para ulama-ulama di Bima dalam mempertahankan, mengembangkan Agama Islam sebagai agama mayoritas di Bima. Penelitian mengenai Eksistensi Ulama Bima Pada Awal Abad XX merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode indepth Interview dengan budayawan serta tokoh Agama yang berada di Bima. Dalam penelitian ini menggambarkan hubungan ulama Bima dengan masyarakat dalam perkembangan Islam di Bima, peranan ulama Bima dalam menentang kolonial Belanda dan peran ulama dalam pemerintah serta perana ulama dalm pendidikan.
Kata Kunci : Eksistensi Ulama, Peran Ulama
KAJIAN NILAI SENI TARI TRADISIONAL DI BIMA, NTB
Oleh : A A Gde Rai Gria
Kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan dapat dipecah lagi menjadi beberapa cabangcabang kesenian, diantaranya adalah seni tari. Tarian Masyarakat Bima mempunyai bermacam-macam tarian tradisional sama seperti daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Tarian tersebut merupakan kesenian yang diwariskan oleh leluhurnya yang dilanjutkan keberadaannya sampai sekarang ini. Tarian tradisional Bima itu antara lain: tarian Hadrah, Kanja, Karaenta, Katubu, Lenggo, Lengsara, MPa a, Sere, Soka dan terakhir tarian Toja mempunyai nilai-nilai budaya yang sangat luhur. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tari tradisional Bima adalah nilai keagamaan, nilai etika, nilai spiritual, nilai estetika. Disamping itu juga memiliki fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi psikologis, fungsi sosial, fungsi rekreasi dan fungsi ekonomi. Semua tari-tarian tradisional Bima ini sampai sekarang masih bertahan dalam masyarakat, karena adanya dukungan baik dukungan sosial maupun budaya.
Kata Kunci : Seni Tari , Tradisional, Masyarakat Bima
PASOLA WANAKAKA SUMBA BARAT
Oleh : I Made Satyananda
Sumba identik dengan marapu. marapu merupkan sebuah sistem kepercayaan tradisional yang masih terus dipraktekkan oleh para penganutnya di pulau Sumba sampai saat ini. Para ahli arkeologi sering menyebut Sumba sebagai living megalithic culture atau budaya megalitik yang terus hidup. Setiap tahun pada bulan Februari atau Maret serangkaian ritual adat dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa agar supaya panen tahun tersebut berhasil dengan baik. Upacara-upacara adat yang dilaksanakan masyarakat Sumba Barat pada dasarnya berkaitan erat dengan budaya agricultur (pertanian) dan merupakan wujud rasa syukur mereka atas hasil panen yang diperoleh sekaligus menjadi sarana untuk memohon berkat para marapu agar hasil panen di tahun berikutnya dapat hasil yang berlimpah. Salah satu ritual adat itu adalah berupa permainan tradisional pasola. Pasola adalah sebuah atraksi budaya berupa permainan tradisional yang merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu.
Kata kunci : ritual adat, marapu, permainan tradisional
SISTEM SOSIAL DESA SEMBALUN LAWANG
KABUPATEN LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Wayan Suca Sumadi
Sembalun lawang adalah merupakan sebuah desa yang keberadaannnya masih sangat tradisional, berada di kaki gunung rinjani, tepatnya di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini berupaya mengungkap sistem sosial dari masyarakat Sembalun Lawang yang sangat berbeda dengan tipe desa-desa lainnya di Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi didalam pengumpulan data lapangan serta menggunakan analisis deskriptif naratif. Penelitian ini menemukan bahwa dalam masyarakat Sembalun Lawang tidak ditemukan adanya stratifikasi sosial seperti kasta-kasta yang dapat ditemukan pada masyarakat suku sasak di Lombok, yang ada hanyalah golongan Amaq dan Inaq, serta sebutan kehormatan Pe bagi pemangku pemerintahan. Sistem pemerintahan di desa Sembalun Lawang awalnya adalah sangat sederhana namun seiring dengan bertambahnya penduduk serta adanya pengaruh luar maka sistem pemerintahan di Sembalun lawang juga mengalami perubahan. Pada masyarakat Sembalun Lawang, kesatuan hidup setempat yang terkecil adalah kampung yang disebut gubuk. Kesatuan teritorial ini sebenarnya dahulu juga merupakan kesatuan genealogis.
Kata Kunci: Sistem Sosial, Stratifikasi Sosial, Kesatuan Hidup Setempat
KESENIAN BARONG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA
DI DESA BATUBULAN KECAMATAN SUKAWATI
KABUPATEN GIANYAR, BALI
Oleh : Yufiza
Di Bali pertunjukan kesenian merupakan bagian penting dari ritual keagamaan. Upacara keagamaan di Bali banyak yang menyertakan kesenian dalam prosesinya. Barong merupakan salah satu kesenian di Bali yang digunakan dalam prosesi upacara ritual tertentu. Di Desa Batubulan, Gianyar, Bali selain digunakan dalam upacara keagamaan, kesenian Barong juga dipertunjukkan sebagai daya tarik wisata. Kesenian barong ini mengalami perkembangan dengan digunakannya sebagai daya tarik pariwisata, sehingga seni barong yang terdapat di sana menjadi dua jenis yaitu sakral dan profan. Kesenian barong sakral tetap digunakan dalam ritual upacara keagamaan tertentu, dan yang profan digunakan sebagai daya tarik wisata. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa kesenian/budaya di Bali berada satu rel dengan agama.
Keyword: Kesenian, Pariwisata, Tari Barong
PENINGGALAN BUDAYA DI ISTANA BALA KUNING, KABUPATEN SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT
Oleh : I Ketut Sudharma Putra
Indonesia in general and Sumbawa Regency in particular, has quite a lot of valuable cultural relics. One example of cultural relics stored in Bala Yellow Palace, Regency of Sumbawa, West Lesser Sunda Province. These cultural relics contain cultural values and beneficial for Indonesian in general and people of Sumbawa in particular. Therefore the cultural legacy must be kept and maintained, so that remains sustainable.
Keywords: Cultural Legacy in Istana Bala Kuning Contains Cultural Values.(30-11-2010)
PERAN PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN
Oleh : Cokorda Istri Suryawati
Nowadays social patriarchy structure, women will not independent if they are not given opportunities by men. The womens expectation, those opportunities are not only status and role, but also the rights. Through the admission to the womens rights is equal to the mens rights, women will independent in self development. At the present women have not independent yet. Micro point of view, some women might express that they have had their independence. However in macro point of view, women still be restrained by a lot of matters, it derived from their self, culture and tradition. Therefore, in order to self development, women should realistic and realize to this situation. (23-11-2010)
APRESIASI KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN
Oleh : I Made Puna
Local wisdom is usually manifested as a system of philosophy, values, norms, customary law, ethics, social institutions, and system of belief through the ceremony. On one side it has function to be the behavior pattern and on the other hand it is the ways, strategies of human and communities to survive and adaptive in facing the environmental change. One among many examples of local wisdom sources that is able to organize the life of a society is a source of wisdom that contained the belief system (religion and religious ceremonies.) However, by certain parties, traditional cultural elements such as local wisdom contained in traditional ceremonies often are regarded as socio-economic constraints. That traditional culture is not often rational and scientific, so there are often efforts to condemn, convert, and even get rid of the local wisdom. The forms of local wisdom are contained in the cultural value and in the cultural system.
Key words : Local wisdom, cultural value and cultural system. (16-11-2010)
BALI MINIMALIS
Oleh:Ida Bagus Sugianto
The existence of the island of Bali as a tourist destination very supports the breath and journey of life that is famous with a strong culture and customs. However, current conditions illustrate how Bali has been experienced a very drastic change. Everything was focused on how to make Bali a barn of money through tourism, ironically customs and cultures on the other side, which make Bali famous throughout the world, begin to be abandoned. Economic life is rolling smoothly on Bali, triggers a high migration and has an impact on the natural environment. Life in harmony with the natural environment as the embodiment of tradition and culture in Bali began to be abandoned.
Keywords: Custom, Culture, and Tourism (16-11-2010)
PEREMPUAN SASAK DAN PELESTARIAN BUDAYA
Oleh : I Made Satyananda
Every woman who was born in Sukarara village will have a learning process in her family environment, and the learning process consists of various life aspects. One of those life aspects is to make cloth by weaving. Besides weaving activities are done in spare time, making the woven fabric can help the family financial, especially during a bad season. This tradition is so strong and can survive from pervious generation to the next generation. This tradition is not just a behavior of the related institutions, but also contains social and cultural values that make the weaving activity still exist. The view about a girl, a dedara (girl child) who will merariq (getting married) should be able to weave is still maintained. According to Sasak custom, it is a customary provision that must be passed by someone who will sustain the marriage, the woman must already prepare fabric for herself and for her future husband, which is the work of homespun.
Keywords: Weaving Cloth, Cultural Preservation, Sasak Tradition (15-11-2010)
LINGKUNGAN DAN PARIWISATA BALI(TINJAUAN DARI SUDUT TEORI MODERNISASI)
Oleh : I G. Ayu Armini
Tourism is a travel, there is people movement temporarily to satisfy the curiosity at the various socio-cultural aspects of other societies, especially the curiosity of the aspects of history, culture, nature, and other community environments. Fulfillment of the curiosity led to the tourism industry which accommodated with a variety of facilities including accommodation, transportation, services, and development of new tourist destination. Industrial development and tourism services would bring various positive and negative effects that reach many aspects of social life. On the one hand, the development in tourism sector gives economic benefits to the society. Conversely, on the other side has resulted the changing of social life and culture and there is quite serious natural environment damage in the tourism industry development area.
Keywords: tourism industry, modernization theory, environmental damage (10-11-2010)
Pentas (Bali) Postkolonial, Subaltern, dan Posisi Kajian Budaya
Oleh : I Ngurah Suryawan
This paper offers one perspective for the study of Balinese culture that is the perspective of postcolonial and Subaltern Bali. This perspective derived from a framework of demolition of the remaining legacy of colonization until the present and influences the way people think postcolonial. Indonesia and Bali is the "construction" colonial legacy of national community in addition to the shadow of political elites at the time. Construction and colonial power relations in shaping the appearance of Bali to be one obvious example.Cultural studies, especially when developed in Bali, requires a spirit and a frame that will provide the context, setting in doing the studies. One of the setting offer s which will be described in the paper is post-colonial Bali. In a postcolonial perspective, the postcolonial areas and people have a big space to "formulate their own history ." Hence, in a postcolonial perspective, placing the position of Subaltern groups, which the marginalized and silenced be one of the important spirit. Their testimony will be an important source for resistance against power structures. In postcolonial and Subaltern relations, this paper will also probe the position of cultural studies, as a "political practice (partiality)."
Keywords: Colonial, Postcolonial, Subaltern, and Cultural Studies (08-11-2010)
VARIAN BENTUK PATUNG LINGGA YONI GAYA SUKANTA WAHYU
Oleh : I Ketut Buda dan I Gst Ngurah Jayanti
Lingga yoni statue of Wahyu Sukanta style is a work of sculpture by using the the philosophy basic concept of lingga and yoni. Lingga and yoni is interpreted as a manifestation of the universe power. Derived from the strength and unification of the lingga and yoni, the creation in all forms that contained in this nature becomes possible. From the concept of lingga yoni, Sukanta Wahyu tried to adapt the concept in a more realistic situation for young people to understand, therefore the creative process and innovative comes in the form of sculpture. Lingga yoni sculpture in the works of Sukanta Wahyu has a new pattern in interpreting the concept of lingga in accordance with the spirit of his time who tend to be more contemporary.
Keywords: Variant forms, lingga yoni sculpture and Sukanta Wahyu.(08-11-2010)
Nika Baronta Sebuah Perlawanan Rakyat Bima Terhadap Pendudukan Jepang 1942-1945
Oleh : Nuryahman
Japan was able to control the Dutch territorial in Indonesia on 9th of March 1942. On the 17th of July 1942, Japan arrived in Bima, considered as The Old Brothers Nation through Three A Movement, Japan was expected can change social condition, economy, and politic to be better than before. But on the contrary Japan is crueler to torture and take the land product of Indonesia, and a lot of people died because of the Japanese torturing. Moreover, the Japanese authorities also collect the girls on the Bima to be a waitress and prostitute at the restaurant and military barracks. In order to face it, the Sultan Bima and community leaders encourage all people to marry of their daughters to Muslim youth, and the suggestion was accepted by the people. So mass wedding was taken place in Bima which well known as "nika baronta".
Keywords : Three A Movement, Sultan Bima, Mass Nuptials. (08-11-2010)
Revitalisasi Makanan Lokal
Oleh : Yufiza
Lately, culinary becomes special focus especially for Indonesian and generally for world society. Every television reportage or somebodys experience going to certain area, there are always discussion concerning culinary. Thereby culinary is able to be special target for all travelers and it always has particular distinction which depends on the visiting place. It gives the inspiration to maintain the local food which identical with culinary, so a nation identity can be preserved and accomplished to all social life, and as existence evidence of nation in preserving its culture
Key words: Revitalization Culinary - Culture.(08-11-2010)
KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA(SEBUAH REALITA)
Oleh : I Made Suarsana
The Belief in Almighty God factually borns, lives, grows, and develops in Indonesia as Indonesian heritage that has august and also adiluhung characteristics. The Belief in God, its adherents, and belief in God organizations have a huge challenge in a period of time kali yuga, modernization, and globalization as it is today. Therefore, efforts to draw closer to God Almighty as well as efforts to built virtuous Indonesian must be completely implemented seriously by always remember (eling) to God the Almighty, prayining, and devoted to God for all the time, in order all obstacles and challenges to be able always overcome.
Keywords : Belief to God Almighty, Reality. (08-11-2010)
SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL BALI KE KONTEMPORER
I Made Dharma Suteja
It might be not abselutly corect that opinion of tradition art (dancing art) only confined at the past time culture values. The Balineses tradition dances tend to independent at a space and time, they are flexible to allow some performance aspects to range to the time zones; past time, now, and change to follow the existing space.
The emerge of new dance masterpiece is started at independence era and there are still two dancing performance groups which is from palace and the ragtag. Therefore actor moved to create the new masterpieces, these art masterpieces were not from palace art or ragtag art. Finally at the later development there are the new masterpieces called contemporary masterpiece or contemporary dancing art.
Then the Postmodern era shows of enrichment to those two traditions (the Tradition Dance and Contemporary Dance), without making a new opinion. In this opinion refers to public fantasy is not put in " inner" of the contemporary art, but at the point of economic and politic. In order to out from these fantasies, contemporary dances need to own the moral base and a number of specialists which can be encouraged to work along, as interpreter and also unit worker in art production of contemporary dance.
Keyword : Contemporary Dance.(08-11-2010)
AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT LOLOAN
Loloan society is one of the minority ethnic in Bali. They live in west Bali area, especially in Negara town that capital town of Jembrana regency. The existence of Loloan society is started when Bugis ethnic from Goa Kingdom at South Celebes came to Jembrana Kingdom in Bali, which is the one of region for their destination. In that time in Goa Kingdom occurred the agression with Dutch collonial, so that some etnics went out from his country. In Jembrana Kingdom they were able well receive and trusted to strengthened division of Jembrana Kingdom army for take safe that country. A reward for their well support, they received the place for their resident, in around Ijo Gading river, called Loloan. In few years later, Loloan is more crowded to visited and develoved into trading port at Jembrana Kingdom. Some of other etnic which were moslem come to Loloan harbour such as Malay ethnic, Java ethnic, and Madura ethnic. Some of them decided to live here and resided together with different society moreover. The culture mixture amongs those ethnics created culture without lossing their own characteristic that each culture. There by the culture of Loloan society reflects moslem culture society, the result of acculturation with Bugeese culture, Malay culture, Javanese culture, and Balinese culture. Those acculturation forms can be seen in some part of physical culture includes traditional ceremony, traditional architecture, language, traditional dance and music.
Key words : Loloan Society, Aculturation, Bugis Ethnic, Melay Etnic, Madura Ethnic, Java ethni, Balinese Ethnic, forms of acculturation. (29-05-2009)
SEJARAH KOTA TALIWANG NUSA TENGGARA BARAT
This Study is a preceding study about development of Taliwang Town in West Lesser Sundas. Taliwang is one of small town, which is located in west part of Sumbawa Island. It has been famous since long time ago. In the beginning, it was a residence for social groups, later it became as community land, which is called Lar Lamat. This Lar Lamat boundaries dominion is called as Nyaka , afterwards it became capital of a empire. Taliwang as a kingdom is one the parts of "Kemutar Telu", which also included Seran, and Jereweh and they were under Sumbawa Sultanate shelter. As a small kingdom, Taliwang is led by a Datu Taliwang, and also one of Sultan delegation, which titled Enti Desa. The kingdom of Taliwang also has its own structure traditional bureaucracy. In the period of the Dutch colonial, Taliwang became capital city of the region, which included Seteluk area and Taliwang. After the period of Republic of Indonesia, it became capital city of sub district. Then in this reform era, after the establishment of the West Sumbawa regency, Taliwang becomes regency capital city and it develops into a center of governance of West Sumbawa Regency. This new governance center is named "Kemutar Telu Center" ( KTC).
Keywords: Urban Ecology, Urbanization, Social Change, Hinterland, Social Mobility, Social Interaction (24-06-2009)
More Download
top
|
|
BALAI PELESTARIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BALI, NTB DAN NTT
Jln. Raya Dalung Abianbase NO. 107 Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali
Telp. (0361) 439547, Fax. ( 0361) 439546 - Kode Pos 80361
|
|